Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 September 2014

KETIKA ANAK BERTANYA TENTANG ALLAH

Bismillah...
Tulisan ini teruntuk para ibu yang peduli terhadap pendidikan anaknya, namun untuk para ayah juga sangat penting karena bisa jadi pertanyaan-pertanyaan semacam ini terlontar kepada para ayah, dan perlu diingat bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggungjawab seorang ibu. Dua-duanya harus saling bersinergi dan bekerjasama.
Bagaimana dengan para lajang? apakah tidak perlu membaca atau tidak perlu tau?bagi saya sangat perlu, bukankah kita juga calon ibu, calon ayah?walaupun kita tak tau kapan punya anak sendiri setidaknya kita sudah mempersiapkan yang terbaik untuk anak-anak kita nanti. Untuk sekarang kita juga bisa menerapkannya pada anak-anak didik kita, keponakan, adik, ataupun sepupu. Jadi sebenarnya kalau mau baca banyak manfaatnya bagi orang lain. Mari simak liputannya...

Allah itu Siapa?
Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar. Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang. Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi “tak mau tahu” alias ignoran, hehehe.

Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya…

Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:

Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Tanya 2: “Bu, Bentuk Allahitu seperti apa?”
Tanya 3: “Bu, Kenapa kita gak bisa lihat Allah?”
Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Tanya 5: “Bu, Kenapa kita harus nyembah Allah?”

Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”

Jawablah:
“Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Tanya 2: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?”

Jangan jawab begini:
“Bentuk Allah itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.


Jawablah begini:
“Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬ا‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١)


[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)

[baca juga Melihat Tuhan]

Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?“

Jangan jawab begini:
Karena Allah itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Jawaban bahwa Allah itu gaib (semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.
Al-Hadid (57) : 3


هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.
Apalagi jika kita menggunakan diksi (pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.
Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma (Nama)-dan Af’al (Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad Saw. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

إِذۡ يَغۡشَى ٱلسِّدۡرَةَ مَا يَغۡشَىٰ (١٦) مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ (١٧)


[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Q.S. An-Najm: 16-17)
{ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}


Jawablah begini:
“Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?”
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris)
“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi,Bagimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”


Atau bisa juga beri jawaban:
“Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.”


Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan “Melihat Tuhan”.
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?
Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.”


Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.”
Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip "Allahu Akbar" itu bohong? [baca juga Ukuran Allahu Akbar]


ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ

Dia bersemayam di atas ’Arsy.


Juga jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di mana-mana.”
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.


Jawablah begini:
“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”

[baca juga Mulai Saat Ini Jangan Sebut-sebut Lagi Yang Di Atas]
“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” (Hadis)


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.(Q.S. Al-Baqarah (2) : 186)


وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)


وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah (2) : 115)
“Allah sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)


وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ

Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”

Jangan jawab begini:
“Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.”
Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus (khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!”
“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)


Jawablah begini:
“Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.

Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)


إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)
[baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?]

Katakan juga pada anak:
“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

“Kenapa, Bu?”
“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”
Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Allah. (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis).

Allahu a’lam.
Sumber#‎CahayaHati

Semoga kita terus mempersiapkan yang terbaik untuk anak-anak kita nanti...

Barokallah fiikum...

Senin, 31 Maret 2014

Rindu

Rindu itu adalah anugerah dari Allah
Insan yang berhati nurani punyai rasa rindu…
Rindu pada kedamaian…
Rindu pada ketenangan…
Rindukan kesejahteraan…
Dan juga kebahagiaan…
Orang-orang yang bertaqwa rindu akan kebenaran
Kejujuran dan keikhlasan keredhaan Tuhannya...
Orang mukmin merindukan anak-anak yang soleh
Suami yang soleh keluarga bahagia
Para pencinta kebenaran rindukan suasana
Masyarakat yang terjalin aman dan sejahtera
Merindukan tertegaknya kalimah Allah di muka bumi
Dan dalam merindukannya keampunan Tuhannya…
Dan seluruh umat itu merindukan cahaya
Yang menyinari kehidupan rindu pada Tuhan…

by: Hijjaz

Jumat, 06 Desember 2013

Inikah Cinta Karena Allah?

Bismillah…

Seminggu lalu kami melaksanakan acara DAQU CAMP di bumi perkemahan Situ Gintung selama tiga hari, acara ini adalah acara rutin tahunan karena merupakan program sekolah. Setiap kali camping banyak pelajaran yang didapat mulai dari belajar survive di alam, belajar mandiri, belajar kreatif, belajar memecahkan masalah, belajar mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, belajar mengendalikan emosi saat lelah bertambah-tambah, belajar berempati kepada sesama, dan yang paling penting belajar tetap istiqomah menunaikan rutinitas ibadah mahdoh baik fardu maupun sunnah. Itulah beberapa hikmah yang kami tanamkan pada anak-anak dalam kegiatan camping.

nah sekarang saya ingin bercerita dalam cerita, yang mungkin bisa diambil hikmahnya,

Pagi yang cerah, mentari bersinar terang disela-sela dedaunan jambu mete yang tumbuh disekitar buper. Saat itu saya baru saja selesai melaksanakan sholat dhuha ditengah hiruk pikuk suasana camping, tiba-tiba seorang sahabat datang menghampiriku yang masih duduk di atas sajadah, dia terlihat agak lemas, ketika ku tanya “antum masih puasa?” Ia menjawab: “iya”, aku penasaran selama kami camping tiga hari ini ia puasa terus padahal kegiatan ini butuh banyak menyita tenaga, akhirnya aku bertanya lagi, “antum puasa apa?bayar nazar atau bayar hutang?” “ngak cuma pengen puasa aja say”. Tiba-tiba ia bertanya tentang sesuatu yang tak biasa, sebenarnya kami sudah cukup lama bersahabat tapi belum pernah bertanya tentang hal serius semacam itu, karena waktu kami terbatas.

Inilah dialog kami berdua:

R: "Say pernahkah antum jatuh cinta pada seseorang?"

A: (kaget mendapat pertanyaan yang tiba-tiba, namun segera ku jawab) “yah setiap orang pasti dianugerahi rasa itu, karena itu adalah fitrah”

R: “jadi kesimpulannya antum pernah?”

A: (hanya terenyum)”kenapa antum ini sedang jatuh cintakah?kalau iya tidak apa-apa sudah suatullahnya begitu dari sejak Nabi Adam as.dulu, hanya saja perlu kita bingkai dengan syari’atnya kalau belum mampu menikah”

R: “yah ana tau itu, ana tau bagaimana caranya menjaga, namun sebenarnya bukan belum mampu, hanya saja ana menunggu sampai ia datang ke orang tua”

A:  "Apakah ia tau bahwa antum menunggunya?"

R: “yah mungkin, ana hanya berprasangka karena kami tak pernah bertemu lagi sejak lulus SMA dulu bahkan berkomunikasipun tidak”

A:  “Sejak SMA? Berarti sudah delapan tahun ya? Jadi selama delapan tahun ini antum mengunggunya?"

R: “Iya say”

A: “Subhanallah, apa yang membuat antum begitu yakin dan begitu kuat menunggunya selama ini?”

R: “entahlah say, ana juga tak faham, sebenarnya ia biasa saja, tidak ganteng, apalagi kaya yang kebanyakan wanita meninginkan hal itu. Tapi sejujurnya ana kagum pada kepribadiannya dan keshalihannya dan ia adalah orang yang menginspirasi ana untuk terus menghafal al qur’an. Dan yang membuat ana bersedih ternyata ia sudah datang sebanyak 4 kali ke orang tua dan ana tak pernah dikasih tau, karena orang tua tidak setuju dengan alasan beda suku".

A: “sekarang, apakah antum masih menunggu ia datang lagi?”

R: (dengan yakin ia menjawab)”iya say, ana masih menunggunya, bahkan kalau memang kami tidak berjodoh, dalam hati ana berjanji biarlah ia yang mendahuluiku menikah, ana tak ingin menyakitinya, kadang ana merasa sangat takut sekali menyakitinya, karena akhir-akhir ini beberapa orang datang ke orang tua untuk meminang, namun alhamdulillahnya belum ada yang cocok menurut mereka. Tapi sekarang sebenarnya mereka sudah melunak, sudah mau terbuka dengan siapa saja, dan ana masih sangat berharap ia datang lagi”

Binaran mata itu berkaca-kaca, ah, aku tak kuat menatapnya, aku tertunduk dalam, tak ada isakan tangis, mungkin ia sudah tak mampu lagi bersuara, hanya butiran bening ketulusan mengalir berderai-derai di sudut matanya yang mampu mewakili perasaannya. Aku ingin sekali memeluknya untuk sekedar menguatkan hatinya yang sedang rapuh, namun keramaian di sekitar perkemahan membuatku mengurungkan niat agar tidak menjadi pusat perhatian mereka. Aku hanya berkata ”berharaplah pada Allah, bukankah Dia Yang Maha Mengabulkan Harapan? la tahzan, innallaha ma’ana”.

Aku salut pada sahabatku ini, dalam kegamangannya ternyata selama Muharam ini ia berpuasa untuk mengobati hatinya yang sedang rapuh, sampai di perkemahanpun masih berpuasa, Subhanallah luar biasa. Mungkin itulah bedanya jatuh cinta orang beriman, membuat ia semakin dekat dengan Allah, bukan mendekat pada orang yang ia cintai. 

Sahabat, sungguh ku tau perasaanmu, andaikan aku mengenalnya, aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa kau masih menunggunya. Hanya do’aku untukmu: semoga Allah mudahkan semua urusanmu, mengabulkan do’amu, mendapatkan yang terbaik dari sisi-Nya.

Dari kisah di atas banyak ibroh yang bisa diambil. Bahwa cinta adalah kekuatan, bukan melemahkan, cinta adalah harapan, bukan angan kosong, cinta adalah semangat menjadi lebih baik bukan hancur dalam keterpurukan, cinta adalah yakin walau dalam kegamangan. Yah seperti sahabatku itu, karena cintanya membuat ia menjadi hafidzoh 30 juz, begitu juga dengan orang yang dicintainya, yang ia ketahui dari sahabatnya bahwa pemuda itu juga telah menjadi hafidz 30 juz dan menjadi pemuda yang alim lagi sholih. Subhanallah energi cinta memang luar biasa, apalagi bila cinta itu diapresiasi oleh orang-orang di sekitarnya insya Allah akan melahirkan sesuatu yang lebih dahsyat.

Mungkin inilah namanya cinta karena Allah, tak lekang oleh waktu, karena penyebabnya Allah, maka semakin mereka dekat dengan Allah, cintanya semakin kuat dan dalam walaupun tak pernah berinteraksi dan banyak rintangan yang mereka hadapi.


Semoga Allah mempertemukan mereka dalam ikatan yang kuat nan suci, mereka pantas mendapatkannya karena kesabarannya, sabar atas ujian, sabar dalam menjaga hati, sabar dalam taat kepada Allah. Sabar dan terus bersabar...

Aamiin ya Mujiib…

Selasa, 07 Mei 2013

Bakerja dengan Cinta

Bismillaahirrohmaanirrohiiim…

Energi cinta sungguh luar biasa. Apapun kondisinya bila bekerja dengan landasan cinta semua akan jadi lebih mudah, semua akan menjadi lebih ringan, dan tidak hanya itu, ia akan melahirkan karya yang fenomenal. Cinta dan kerja adalah sebuah harmonisasi untuk mencapai keridhaan-Nya. Bagaimana kemudian cinta itu membawa kita menyingkap rahasia keajaiban.

Kata Anis Matta, Sejarah adalah catatan keajaiban. Tapi cinta adalah rahasianya. Cinta adalah saat kegilaan jiwa. Begitu cinta merasuki  jiwamu, kamu jadi gila. Begitu kamu gila energimu berlipat-lipat, lalu membulat, mendidih bagai kawah yang siap meledak dan membakar semua yang ada di sekelilingnya. Begitu energimu meledak, keajaiban tercipta. Begitulah naturalnya; keajaiban-keajaiban yang kita temukan dalam sejarah tercipta dalam saat-saat jiwa itu.

Legenda keadilan Umar bin Khattab adalah keajaiban. Tafsirnya adalah cintanya pada Allah dan rakyatnya telah menjadi roh kepemimpinannya. Legenda perang Khalid bin Walid adalah keajaiban. Tafsirnya juga begitu: karena ia lebih mencintai jihad ketimbang tidur bersama seorang gadis cantik di malam pengantin. Hasan Al Banna adalah legenda dakwah yang melahirkan kebangkitan islam modern. Tafsirnya juga begitu: ia lebih mencintai dakwahnya di atas segalanya.

Saat cinta adalah saat gila. Saat gila adalah saat keajaiban. Bumi bergetar saat sejarah mencatat keajaiban itu. Iqbal menyebut saat cinta itu sebagai saat jiwa jadi sadar-jaga.

“Apabila jiwa yang sadar-jaga terlahir dalam raga,maka persinggahan lama ini, ialah dunia, gemetar hingga ke dasar-dasarnya”.

Mari kita belajar pada kisah Hajar yang ditinggal oleh Ibrahim di lembah sunyi tak berpenghuni bersama bayinya Ismail. Namun ia yakin dengan berkata  ”jika ini perintah Allah, Dia takan pernah menyia-nyiakan kami”. Karena tangis putranya kemudian iapun mencari-cari air berlari kesana-kemari antara shafa dan marwah sebanyak tujuh kali. Maka keajaiban itu memancar dijejak-jejak kaki Ismail yang menangis, bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan. Kata Salim A Fillah, Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Bahwa makna bekerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas iradahNya Yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu memenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki. Bekerja saja, maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Kata ustad Tifatul Sembiring dalam mabit bulanan di Masjid Baitul Ikhsan, ada langkah-langkah yang bisa dibuat untuk bekerja dengan cinta, diantaranya:
  • Menzahirkan islam
Apapun profesi kita: menjadi guru, penulis, petani, PNS, pengusaha, pengacara, tentara, bahkan presiden, pun ibu rumah tangga, jangan dikira menjadi ibu rumah tangga akan bahagia bila tidak karena cinta, maka bawalah islam ke dalamnya, bingkailah dengan nilai-nilai islam, isilah dengan ruh-ruh islam, niscaya akan dirasa manisnya iman.
  •  Menjadi Rijal 
Rijal di sini bukan khusus pada laki-laki, tapi manusia (baik laki-laki atau perempuan) yang mampu mengajak atau mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Rijal bukanlah manusia pemalas, suka tidur, senang berdebat, atau hanya mencaci maki keadaan.
  • Mencari ridha Allah SWT
Maka orientasi hidup adalah menuju Mardhotillah, seperti termaktub dalam firman Allah: “Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya” (QS. Al Kahf [18]: 2-3)

Maka apapun profesi kita bekerjalah dengan cinta, karena kerja dengan cinta adalah kerja dakwah, dakwah tak hanya menyampaikan ceramah di depan orang banyak, dakwah bisa di mana saja termasuk di lini profesi, ranah pemerintahan dan lainnya. Dakwah dengan cinta, cinta kepada Allah dan Rosulnya, niscaya kamu tak akan disia-siakan. Seperti firman Allah:

“Bekerjalah kalian, maka Allah dan RosulNya serta orang-orang mukmin akan melihat amal-amal kalian itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS.  At Taubah [9]: 105)

Di sini, dalam kerja dengan cinta ada mahfuzhat masyhur  “Bekerjalah untuk duniamu, seakan engkau akan hidup abadi. Dan beramallah untuk akhiratmu seakan engkau akan mati esok hari”. Bekerjalah dan beramallah, karena kita tidak pernah tahu sampai kapan waktu akan berakhir.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, (Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Dalam kerja dengan cinta, kita mengambil  cinta dari langit, lalu menebarkannya di bumi. Sungguh, surga disediakan bagi orang-orang yang mencintai Allah dan Rosulnya serta mengerjakan amal kebajikan.

Disadur dari berbagai sumber dan disarikan dari Mabit bulanan masjid Baitul Ikhsan, Jakarta Pusat
Sabtu-Ahad, 27-28 April 2013

Barokallahu fii kum...