Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Menikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menikah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Maret 2014

Untukmu Yang Akan Menikah

Bismillah...

Siapa yang tidak ingin menikah? seshalih apapun bila ada niatan tidak ingin menikah, mungkin dia tidak mencintai Rosulullah, mungkin ia bukan umat Rosulullah SAW karena beliau telah bersabda:

Dan dari Anas, bahwasanya ada sebagian shahabat Nabi SAW yang berkata, “Aku tidak akan kawin”. Sebagian lagi berkata, “Aku akan shalat terus menerus dan tidak akan tidur”. Dan sebagian lagi berkata, “Aku akan berpuasa terus menerus”. Kemudian hal itu sampai kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda, “Bagaimanakah keadaan kaum itu, mereka mengatakan demikian dan demikian ?.Padahal aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan akupun mengawini wanita. Maka barangsiapa yang tidak meyukai sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]    
     
Namun ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar pernikahan yang hakikatnya suci mendapat barokah dari Allah SWT. Persiapan ilmu sudah barang tentu karena hal ini adalah ibadah sekali seumur hidup, namun tidak mesti harus cukup dan sempurna ilmunya karena belajar adalah sepanjang hayat jadi kalau menunggu sempurna ilmunya mungkin kita tidak akan pernah mencapainya.

Tapi disini saya tidak akan membahas tentang persiapan ilmu, fisik, psikologis deelel, itu adalah persiapan jangka panjang, dan mungkin sebagian besar kita sudah tau apa yang harus dipersiapkan. Saya hanya ingin membahas fenomena yang sering sekali terjadi di tengah-tengah kita yang notabennya faham agama. Banyak diantara kita yang masih tawar menawar dalam hal ini. Di tengah-tengah pesatnya ilmu dan informasi, kita justru terperangkap dalam belengu yang bernama "ketakberdayaan". Yah, kita seringkali mengatakan tak berdaya ketika dihadapkan pada situsi yang tidak berpihak pada kita. Maka kita perlu mempersiapkan diri dalam keteguhan memegang prinsip, istiqomah dalam ketaatan.

Hal-hal di bawah ini agar menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua karena seringkali terjadi saat dua anak manusia bertemu dalam satu akad bernama pernikahan:

1. Pakaian tidak sesuai syari'at
Saat hari pengantin berlangsung apa yang kebanyakan dipakai oleh pengantin wanita? yah, baju pengantin yang cantik, namun sayang balutan baju yang anggun itu tidak didasarkan pada syariat yang sebenarnya sudah kita ketahui. Masih ada yang transparan, sempit, bahkan sampai jilbab yang sehari-harinya terurai anggun, namun pada hari itu mencekik leher, kepala seperti punuk unta. Sepertinya kita perlu mencermati lagi hadist Nabi ini:

 "wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

"Sesungguhnya sebilangan ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya." (Riwayat Bukhari dan Muslim).

2. Dandanan berlebihan
Selain pakaian kita juga sering melihat dandanan norak yang menghiasi wajah, sehingga sudah masuk dalam tabarruj, padahal berhias itu hanya untuk suamimu.

Diriwayatkan pula pada hari pernikahan Aisyah dengan Rasulullah dari Asma’ binti Yazid yang berkata “Aku menghias Aisyah untuk Rasulullah SAW, lalu aku datang padanya. Kemudian aku memanggil Rasul supaya datang menghampiri Aisyah…”(HR. Ahmad)

3. Mencukur Alis
Hal kecil ini dianggap  remeh, banyak diantara kita berdalih "cuma untuk merapikan kok" semoga hadits ini bisa mencerahkan:

“Allah melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato. Allah pula melaknat orang yang mencabut rambut wajah dan yang meminta dicabut.” (HR. Muslim no. 2125)

"Semoga Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dirinya atau meminta ditatokan, yang mencukur bulu alisnya atau meminta dicukurkan, yang mengikir giginya supaya kelihatan indah dan mengubah ciptaan Allah" (HR.Al- Bukhari dan Muslim)


4. Menjamak Sholat
Hal lain yang sering dijumpai dalam peristiwa sakral pernikahan masa kini adalah jamak sholat, banyak kita jumpai pengantin menjamak sholatnya karena alasan yang dibuat-buat: sayang riasannya, tanggung waktunya, dll. Padahal, setahu saya jamak sholat hanya berlaku untuk musafir yang menempuh perjalanan mencapai 89 km, karena sakit, karena hujan yang sangat lebat, atau berhaji ketika di Muzdalifah. Saya belum menemukan dibolehkannya sholat jamak ketika hari pengantin.

Beberapa hal tersebut adalah dari sekian banyak keanehan yang sering ditemui. Akankah keyakinan yang telah kita jaga selama bertahun-tahun, dipertaruhkan hanya dalam satu hari?. Kebanyakan kita berdalih tak berdaya karena keinginan orang tua, atau keinginan tukang rias, benarkah?. Saudariku, kita yang paling tau jawabannya, kita yang paling tau apa yang tersembunyi di dalam hati, dan jangan lupa ada yang Maha Tau tentang kita, tentang semua mahluknya: Allah SWT. Maka tak layak bagi kita mencari-cari alasan padahal sebenarnya karena ingin terlihat cantik. Tidak ada yang menjamin kebahagiaan dengan cantiknya fisik, yang terpenting adalah cantiknya hati dan indahnya akhlak.

Kalaulah masalahnya pada orang tua, atau pada tukang rias, rasanya kita bisa menyelesaikannya dengan melakukan komunikasi lebih awal, jauh-jauh hari sebelum hari H. Jelaskanlah dengan santun dan bijak apa yang menjadi prinsip dan keinginan kita, Insya Allah mereka akan memahami. Namun bila masalahnya ada pada hati kita, inilah yang paling sulit diatasi, akan selalu ada alasan-alasan untuk membenarkan. Maka harusnya, kita jangan pernah berhenti untuk menata hati agar tidak tergolong seperti Firman Allah berikut:

 “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.”(QS, An Nahl:92)

Yah, kita sudah membangun keyakinan selama bertahun-tahun, namun akhirnya kita sendiri yang menghancurkan hanya dalam satu hari. Sungguh sangat merugilah kita. Apa yang kita harapkan dari sebuah bagunan yang hancur?mungkin hanya puing-puing kerapuhan yang tersisa. Apa yang kita harapkan dari peristiwa sakral yang kita lakukan? Barokah?masihkah kita berharap barokah bila kita masih terus bermaksiat kepada Allah, sungguh naif diri kita ini. Semoga Allah selalu menjaga kita.


semoga yang sedikit ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu istiqomah dalam ketaatan, teguh dalam memegang prinsip...mendapat barokah dari Allah SWT aamiin...

Barokallah fiikum...

wallhua'lam bishowab...






Kamis, 18 April 2013

Sucikan Cinta, Raih Bahagia

Bissmillaahirrohmaanirrohiim…

Cinta itu hakikatnya suci. Dari Allah awalnya, dan kelak kesana akhirnya. Semua gerak di alam raya ini, di langit dan di bumi, adalah gerak yang lahir dari kehendak dan cinta. Dengan dan untuk itulah alam ini bergerak. Kehendak dan cintalah alasan pergerakan dan perhentiannya. Bahkan dengan dan untuk kehendak dan cinta jugalah alam ini diciptakan. Sesungguhnya hakikat cinta adalah gerak jiwa sang pecinta kepada yang dicintainya. Maka cinta adalah gerak tanpa henti. Dan inilah makna kebenaran ketika Allah mengatakan “ Dan tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antaranya kecuali dengan kebenaran.” (QS. Al Hijr: 85)

Jadi cinta adalah makna kebenaran dalam penciptaan. Itu sebabnya , hati yang dipenuhi dengan cinta lebih mudah dan cepat menangkap kebenaran. Cinta tidak tumbuh dalam hati yang dipenuhi keangkuhan, angkara murka, dan dendam. Cinta melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Cinta adalah cahaya yang memberikan kekuatan penglihatan pada mata hati kita. (M. Annis Matta)

Jika didalam hatimu ada cinta, maka cintailah Allah dan Rosulnya. Cara mencintai Allah adalah kamu beriman dan bertakwa kepada-Nya, kamu percaya dan mentaati segala perintah-Nya serta menjauhi  segala larangan-Nya. Jika kamu mencintai Rosul maka ikutilah sunnah-sunnahnya.   

Menikah adalah sunnah Rosulullah SAW, Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ia berkata, “Rasulullah SAW pernah melarang ‘Utsman bin Madh’un membujang dan kalau sekiranya Rasulullah mengijinkannya tentu kami berkebiri”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Ada sekelompok orang datang ke rumah istri-istri Nabi SAW, mereka menanyakan tentang ibadah Nabi SAW. Setelah mereka diberitahu, lalu mereka merasa bahwa amal mereka masih sedikit. Lalu mereka berkata, “Dimana kedudukan kita dari Nabi SAW, sedangkan Allah telah mengampuni beliau dari dosa-dosa beliau yang terdahulu dan yang kemudian”. Seseorang diantara mereka berkata, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan shalat malam terus”. Yang lain berkata, “Saya akan puasa terus-menerus”. Yang lain lagi berkata, “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya”. Kemudian Rasulullah SAW datang kepada mereka dan bersabda, “Apakah kalian yang tadi mengatakan demikian dan demikian?. Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan orang yang paling bertaqwa kepada Allah diantara kalian. Sedangkan aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan aku mengawini wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Bukhari, Muslim dan lainnya]

Jangan menundanya karena takut miskin, karena Allah telah berfirman “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. [QS. An-Nuur: 32]. Rosulullah SAW juga bersabda “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160) [1]

Ustad Shoffan Al Banna menyebutkan, pernikahan adalah sebuah proyek peradaban, jadi jangan ditunda-tunda, menundanya berarti menunda pembangunan proyek peradaban. Karena kita lihat wajah dunia saat ini perlu sentuhan tangan-tangan manusia yang punya cita rasa peradaban tinggi yaitu orang-orang yang sholih wa muslih yang beriman dan bertakwa kepada Allah dan Rosul-Nya. Seperti seorang laki-laki bernama Hasan Al Banna yang dengan tangannya telah mengubah dunia yang telah jauh dari peradaban islam dengan julukan "bapak pembagun peradaban".

Beliau juga menyampaikan beberapa motivasi pernikahan:

  • Pernikahan merupakan hubungan paling jelas
  • Berfikir ketika cita-cita tak mampu lagi ku gapai, maka aku butuh seseorang yang bisa menguatkanku disaat aku lemah, aku tak mampu lagi melaluinya sendiri. 
  • Keberkahan menikah, bila ada masalah maka solusi akan hadir dari arah yang tidak disangka-sangka
  • Tidak ada hambatan dalam menikah bila kita menghadapi dengan hati yang lapang dan menyertakan Allah dalam setiap urusan kita.

Ustad Bachtiar Natsir, menyebutkan menikah tidak hanya membentuk keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah, tetapi membentuk keluarga dakwah. Agar kita dapat menyebar luaskan agama Allah ini. Dan tak hanya itu ada misi penting untuk meraih bahagia pernikahan, yaitu menjaga diri dan keluarga dari siksaan api neraka.  
ada kata-kata bertenaga dari beliau:
  • Cinta sejati ialah cinta yang melahirkan rasa tentram (sakinah), rasa kasih (mawaddah), dan rasa sayang (rohmah) antar insan yang saling mencintai serta kemanusiaan universal.
  • Manusia tanpa cinta adalah manusia yang posesif 
  • Manusia tanpa cinta adalah manusia tanpa obsesi
Ustad Bachtiar juga menjelaskan bahwa ikhtiar jodoh yang paling utama yang pertama adalah meminta kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu”. (Al Mu’min: 60). "Dan apabila hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah kepada mereka bahwa Aku adalah dekat kepadanya dan Aku memperkenankan do'a orang yang berdo'a kepada-Ku" (Al-Baqarah: 186 ). Dan yang kedua adalah mensucikan diri, diantara cara mensucikan diri adalah dengan bertawakkal kepada Allah SWT, Allah berfirman “ Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluan-Nya. Dan akan memberikannya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”(At Thalaq: 2-3)       
                                                                                                                                                      
Sambil menunggu, maka untuk laki-laki pelajarilah mahluk yang bernama wanita, sebaliknya untuk wanita pelajarilah mahluk yang bernama laki-laki agar kelak saling memahami, karena keduanya diciptakan dengan karakter yang berbeda.

Ustad Salaim A Fillah, lebih menekankan pada pernak pernik rumah tangga. Beliau mengajak memaknai rasa sakinah, mawaddah wa rohmah. Makna sakinah adalah agar kau terjaga dalam kesucian dengan kehadirannya, agar kau simpul ikatan hati dengannya, agar kau cenderung dalam fikir dan rasa kepadanya, dan agar kau merasa tentram dengannya. Seperti ini kira-kira, bila seorang istri berkata “ wahai suamiku, berangkatlah bekerja dengan pulang membawa rezeki yang halal lagi toyyib, karena kami (aku dan anak-anakmu) lebih takut terhadap api neraka daripada menerima harta yang kau bawa yang diperoleh dengan jalan yang haram. Bila istri berkata demikian maka tidak akan ada lagi suami yang korupsi. Makna mawaddah ialah cinta yang menggebu (Romantisme).Bentuknya bisa ekspresi yang paling batin sampai yang paling zahir. Seperti sering saling memberi hadiah, selalu mengingat kebaikannya, selalu berkomunikasi dan saling terbuka. Makna rohmah (rasa sayang) adalah puncak dari cinta sehingga akan lahir sikap berkorban bukan menuntut, memberi bukan meminta berinisiatif bukan menunggu, dan bersedia bukan berharap-harap.

Bunda Asma Nadia, seorang penulis best seller catatan hati seorang istri, mengatakan menikah adalah membentuk keluarga muslim berdaya, agar bisa bermanfaat bagi manusia lainnya. Untuk membentuk itu maka tujuan suami harus sama dengan tujuan istri. Maka “Menikahlah bila kau yakin akan mendapat surga bersamanya”.         
                             
Disarikan dari Seminar Pranikah 2013 “Sucikan Cinta, Raih Bahagia”
Ahad 14 April 2013, gedung SMESCO Pancoran, Jakarta Selatan