Cari Blog Ini

Minggu, 20 Juli 2014

MEMBERSAMAI RAMADHAN DENGAN CINTA



Apa yang terbersit dalam benak kita ketika disebut tentang cinta? Mungkin banyak yang berfikir tentang cinta dua anak manusia yang haus kasih sayang. Bukan. cinta bukan hanya itu ada cinta yang lebih mulia dan lebih hakiki, bila cinta yang paling tinggi ini bisa kita raih maka semua bentuk cinta akan kita dapatkan.  Yah, hanya cinta kepada Allahlah cinta yang paling tinggi dan mulia. Cinta butuh pengorbanan, tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Inilah beberapa pengorbanan yang harus kita lakukan bila kita mengaku cinta kepada Allah dan Rosulullah:

  • Perbanyak tilawah dan memahami maknanya

Berkorban mengkhususkankan waktu dan melawan rasa malas untuk tilawah. Allah  menjanjikan bagi mereka yang rajin membaca Al Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (QS. Fathir: 29)

“Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804]

  • Perbanyak sholat malam

Berkorban untuk terbangun dari nyenyaknya tidur, dari mimpi-mimpi indah. Namun Allah menjanjikan balasannya sebagaimana firman-Nya:

 “Dan pada sebahagian malam, kerjakanlah sholat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Robb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji “(QS. Al isra’: 79)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.”( QS. Adz Dzaariyaat: 15-18)

Diriwayatkan dari Jabir r.a, bahwa ia berkata : Aku telah mendengar Rosululloh saw bersabda :
“ Sesungguhnya diwaktu malam itu terdapat suatu waktu yang jika saja bertepatan dengan waktu itu seorang hamba muslim memohon kebaikan kepada Allah berkenaan dengan urusan dunia dan akhirat, sudah pasti Allah akan memberikannya kepadanya. Waktu itu terdapat pada setiap malam.” (HR. Muslim)

  • Perbanyak membaca hal-hal yang bermanfaat

Membaca akan membuka jendela dunia, dengan membaca akan bertambah ilmunya, sebagaimana firman Allah:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al-Mujaadilah: 11)

“Barangsiapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga” (HR. Muslim)

Dengan ilmu pula kita dapat berbagi kepada orang lain, sebagai mana hadits Nabi:
“Barangsiapa memberikan petunjuk kebaikan maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang tersebut.” (HR. Muslim).
  • Perbanyak silaturrahim
Orang yang menyambung silaturrahim akan dipanjangkan umurnya dan diuaskan rezekinya.
 “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

  • Perbanyak sedekah

Walaupun hanya tersenyum ketika bertemu dengan saudara atau sahabatmu, walaupun hanya membuang duri di jalan, apalagi sedekah materi yang kita miliki, dan sholat dhuha di setiap pagi.
  
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan  Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqoroh: 261)

  • Penuhi janji

Bila berjanji maka tepatilah, karena sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak

“Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An Nahl: 91)

  • Perbanyak doa

Doa adalah senjata orang mukmin, sebagaimana firman Allah “Dan berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu (QS. Gafir: 60). Berdo’a untuk pribadi, saudara, sahabat, untuk negeri, untuk sahabat-sahabat kita yang sedang berjuang menjemput syahid di tanah Palestina.

  • I’tikaf disepuluh hari terakhir Ramadhan

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.(HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

“Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari no. 2018 dan Muslim no. 1167).

Jadi, beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan i’tikaf supaya mudah mendapatkan malam lailatul qadar. Bagi wanita banyak ulama berpendapat diperbolehkannya i’tikaf dengan syarat atas izin suaminya, bagi yang belum menikah maka izin orang tuanya.
  • Perbanyak melakukan hal-hal yang bermanfaat lainnya
Terutama setelah subuh, jangan sampai tidur lagi. Di bulan ramadhan ini rawan sekali terjadi tragedi ini karena didukung oleh keadan perut yang kenyang dan hawa dingin yang semilir. Padahal pagi hari adalah waktu yang paling berharga untuk awal permulaan segala aktivitas. Ada banyak  keburukan yang akan diperoleh bila tidur pagi menjadi kebiasaan.

Untuk melakukan semua itu kita butuh azam y ang kuat, pengorbanan disertai keiklasan dan kesabaran melawan kemalasan agar kita melakukan hal-hal tersebut semudah membalikkan telapak tangan.

Ramadahan adalah bulan mulia penuh barokah dan hanya dihadiahkan oleh Allah sebulan dalam setahun. Apakah kita rela membiarkannya  berlalu begitu saja tanpa makna, padahal Allah banyak menjanjikan lipatan pahala sebagai karunia-Nya.

Sungguh merugilah kita bila tidak menyambut karunia ini dengan sebaik-baik amalan.  Bagi yang belum memulai maka Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk memulainya, dan bagi yang sudah memulai semoga istiqomah sampai akhir hayat. Dan jangan lupa peningkatan kuantitas amalan juga merupakan indikator cinta yang semakin tinggi.

Semoga dengan upaya kita yang sedikit ini menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang sholeh yang mewarisi surga Firdaus. Dan kesholihan yang barokah adalah menularkan kesholihan itu kepada orang lain “menjadi sholih dan mensholihkan orang lain” itulah risalah yang diwariskan Rosulullah kepada kita. Semoga kita pantas berharap sepenggal firdaus-Nya…

Semoga yang sedikit ini bisa menjadi motivasi bagi bagi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di hari ini, esok, lusa, bulan-bulan selanjutnya dan selamanya…
Aamiin ya mujiib…

Barokallah fiikum…

Islamic Center Bekasi, 23 Ramadhan 1435 H

Sabtu, 28 Juni 2014

7 Indikator Kebahagiaan di Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat taat dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW. Selain itu pada usia 9 tahun, Ibnu Abbas telah menghafal Al-Quran dan menjadi imam di masjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.
Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki hati yang syukur berarti selalu bersifat qanaah- redha dengan apa yang dimilikinya. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia pasti terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.
Bila sedang dalam kesusahan, ia ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang soleh.
Pasangan hidup yang soleh akan mencipta suasana rumah dan keluarga yang soleh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak isteri dan anaknya kepada kesolehan. Berbahagialah menjadi seorang isteri bila memiliki suami yang soleh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak isteri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang isteri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
"Sewaktu Rasulullah SAW  bertaawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang melecet belakangnya. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa belakangmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika solat, atau ketika istirahat, selain dari waktu itu saya akan mendukungnya. “. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ? ”Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah redha kepadamu,, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu”.
Dari hadis tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita. Namun kita boleh mendoakan mereka kerana doa anak yang soleh kepada orang tuanya akan dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang soleh.

Keempat, albiah sholihah, lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita haruslah rapat dengan orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang soleh. Orang-orang yang soleh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang soleh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah pada banyaknya harta tetapi halalnya harta tersebut. Ini tidak bererti Islam tidak menyuruh umatnya untuk menjadi kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sedakah, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dapat dikabulkan?”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia bersemangat untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai Allah dan risalahNya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang barakah.
Umur yang barakah itu bermakna umur yang semakin tua semakin soleh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu fikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan. Hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikurniakan Allah ketujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT sekhusyu’ mungkin yaitu dengan doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanah wa fil akhirati hasanah waqina azabannar” ( “Ya Allah kurniakanlah aku kebahagiaan dunia dan kebahagian di akhirat serta jauhkan kami dari siksa api neraka. “),
Semoga kita mendapatkan ketujuh kebahagiaan tersebut. Mari perbanyak do'a dan sempurnakan ikhtiar...

disadur dari berbagai sumber
barokallahu fiikum...
Wisma Mahabbah, 1 Ramadhan 1435 H

Minggu, 18 Mei 2014

RIHLAH ILMIYAH SMA DAARUL QUR'AN PUTRI 2014

bismillah...

Kali ini saya akan menulis pengalaman atau lebih tepat hikmah dari perjalanan tarbawi ke Yogya kemarin, baru sempet nulis setelah beberapa minggu ini sibuk dengan UN deelel, sok sibuk.com :). Awalnya sih belum ada rencana ke Jogja untuk Study Tour siswi kelas akhir, tapi setelah rapat dadakan maka diputuskanlah tempat tujuan kota Yogyakarta. Dan yang lebih keren lagi waktunya ditetapkan 2 minggu lagi, waw fantastic, benar-benar seperti firman Allah "Kun Fayakun" jika Allah mengatakan terjadilah maka terjadilah. Dan ini benar-benar terjadi, alhamdulillah dalam waktu 2 minggu itu kami mempersiapkan segalanya, maka disini intinya kerjasama yang baik sangat diperlukan saat kita telah memutuskan sesuatu sehingga segala konsekuensi harus ditanggung bersama.

Setiap orang harus mengambil peran masing-masing untuk mensukseskan keputusan bersama. Dan saya kebagian menghubungi pihak UGM karena salah satu agenda kami adalah kunjungan pendidikan, ini sebagai sarana pengenalan kampus untuk para siswa agar mempunyai pandangan kedepan kampus mana yang akan dimasuki dan jurusan apa yang akan diambil. Nah, ternyata tidak semudah yang dibayangkan dengan waktu yang sebegitu mepet saya harus telfon bolak-balik ke pihak UGM, semua fakultas saya coba dan akhirnya yang bisa menerima jadwal kami hanya Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Budaya, alhamdulillah masih ada yang bisa.

Supaya tidak ribet saya sarankan jika melakukan perjalanan dengan rombongan lebih baik menggunakan jasa travel. Kita tinggal terima bersih, semua sudah ditanggung mereka, mulai dari makan, penginapan, sampai tempat wisata, jadi kita tidak terlalu sibuk mengurus semuanya.

***
Oke lanjut, perjalanan kami, rombongan guru dan siswi SMA Daarul Qur'an Bekasi berangkat tepat pukul 13.30 dari Cikarang dan tiba di Jogja jam 4.00. Pertama singgah di rumah makan, belum ke penginapan di sini aktivitas diawali mandi, sholat subuh dan sarapan pagi. Jam 7.00 perjalanan berlanjut ke UGM.


Tepat sekali tiba di UGM jam 8.00 di Fakultas Pertanian. Di sini banyak ilmu dan info yang didapat, karena latar belakang saya dari Pertanian jadi sedikit banyak nyambunglah. Dari dulu doktrin para dosen kami mengatakan mengapa penting pertanian? yah karena manusia butuh pangan, karena Indonesia negara agraris. Akhirnya saya sepakat, memang benar, coba bayangkan kalau tidak ada petani kita makan apa?mau makan batu?tentu tidakkan?. Kita juga tahu Indonesia ini adalah negara agraris karena sebagian besar penduduknya bermatapencaharian tani.

Jadi sektor ini adalah berpotensi besar untuk dikembangkan agar kita tidak bergantung kepada negara lain. Sebagai gambaran, jika kita mampu swasembada pangan maka kita tidak perlu lagi impor produk-produk pangan, bahkan sebaliknya kita harus ekspor, sehingga ini bisa meningkatkan ketahanan negara juga, kita punya izzah dimata dunia. Sedikit info tahun ini kita mengalami surplus padi dan cabe namun hal ini tidak banyak diketahui, yah kalau prestasi seperti itu tidak banyak dimediakan, tapi kalau kegagalan terlalu berlebihan diekspos.


Disini kami tidak hanya mendengarkan materi, kami diajak mengunjungi lab-lab penelitian, ini memang permintaan saya supaya pengetahuan tak hanya sebatas teori namun melihat juga bagaimana praktiknya.
                                                   alat-alat pengaduk atau pencampur zat-zat kimia
                     zat-zat untuk direaksikan ; membuat cabe berwarna-warni, tanaman tahan hama, dsb.

                                                      pengembangan dan pemeliharaan bibit ikan


                                                                       Auditorium FP
                                                                        Sesi foto bersama

lanjut...ke FIB (Fakultas Ilmu Budaya) UGM, jadwal kami sebenarnya jam 10.00 namun karena ada acara di FIB akhirnya pihak Fakultas meminta diundur jadi jam 11.00. Namun tidak mengapa, justru dengan pengunduran ini kami bisa beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang semalam dan sholat dhuha di musholah FIB yang belum sempat kami tunaikan. Ibadah-ibadah sunnah selalu kami usahakan ketika bepergian kemanapun, ini adalah bentuk realisasi dari motto kami "Menegakkan yang wajib, menghidupkan yang sunnah" senantiasa agar tetap istiqomah dalam ibadah.

Di FIB hanya 1 jam karena keburu sholat jum'at jadinya hanya pengenalan Fakultas dan tidak sempat ke lab-labnya. Kami berharap di sini ada lab budaya, ternyata belum ada, baru ada lab bahasa dan komputer. Berbeda dengan FP di FIB ini kami disambut oleh BEM, jadi suasananya cair banget, mahasiswanya kocak, namun tetap ilmiah. Acara diisi dengan pengenalan dan tanya jawab.

Sebagian orang mengangap budaya itu tidak penting, padahal negara kita ini sangat kaya akan budaya, sebenarnya budaya ini adalah aset dan potensi besar untuk dikelola oleh orang-orang yang punya cita rasa tinggi, orang-orang yang beriman. Budaya adalah anugerah termasuk didalamnya bahasa, bermacam bahasa yang ada di Indonesia. Dan ini adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah.

Allah berfirman "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS.Al-Hujarat: 13).

Budaya perlu dikelola kearah yang benar mengikuti syariah, bukan syariah megikuti budaya maka harus ada pemuda muslim yang menjadi budayawan, menjadi sastrawan. Saya sering bertanya kepada siswa ketika dikelas, "apa cita-cita kalian?" kebanyakan mereka menjawab "jadi dokter bu", ketika dianya lagi "apa alasannya?" mereka menjawab "biar bisa nolong orang", adalagi yang menjawab," biar keren bu", nah loh! menjadi dokter hanya untuk keren-kerenan, Nauzubillah... Menurut saya pemuda muslim harus masuk ke semua sisi kehidupan agar nanti dapat bersinergi menuju satu tujuan yaitu Allah. Jika kita terkotak-kotak dan hanya mau mengambil sisi kerennya saja maka siap-siap orang yang di luar kita akan masuk melalui celah itu dan membinasakan kita. Lihat saja masalah budaya sekarang menjadi sangat menggerahkan, kenapa?karena kita tidak mengelolanya, kita tidak mengambil peran disana, karena hanya orang-orang yang berperanlah yang berpengaruh.


cendera mata dari FIB

Jadi kesimpulannya dari kunjungan ini, saya berharap para siswa terutama, dan pembaca umumnya memahami bahwa semua bidang ilmu itu penting sehingga tidak memandang sebelah mata terhadap ilmu-ilmu yang mungkin dianggap sepele. Maka menjadi petani itu keren karena dapat menghasilkan pangan, sandang dan papan bagi keberlangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lain, menjadi budayawan itu keren bila dapat mengarahkan manusia kepada ketinggian akhlak, sastrawan itu keren karena dapat menghadirkan keindahan kata demi terikatnya ilmu dan tersampaikan maksud, menjadi enginer itu keren karena dapat memudahkan urusan orang lain dengan karyanya, menjadi astromom itu keren karena dapat melihat dan mendeteksi fenomena alam, menjadi ekonom itu keren karena dapat mengatur pemetaan dan pertumbuhan ekonomi bangsa, menjadi politikus itu keren bila dapat menjadi pemimpin yang adil dan amanah bagi rakyatnya, menjadi dokter itu keren karena dapat menjadi jalan ikhtiar bagi yang sedang diuji dengan penyakit, menjadi akuntan itu keren karena dapat mencatat rapi dan menganalisis standar keuangan negara atau perusahaan, menjadi pengusaha itu keren karena dapat membuka lapangan kerja bagi banyak orang, dan yang tak kalah keren adalah mejadi guru karena dapat menjadikan anak-anak didiknya menjadi semua yang telah disebutkan itu, pun menjadi Ibu rumah tangga adalah sangat keren karena dapat mencetak generasi robbani.

Perjalanan berlanjut, cek in penginapan setelah sholat zhuhur dan makan siang di food court UGM, menjelang sore setelah sholat ashar kembali berselancar menuju ke rumah tahfiz QU Deresan, di sini kami dapat suntikan motivasi, bagaimana tidak anak-anak usia SD dan ada beberapa SMP sudah hafal puluhan juz. Sebenarnya malu, sangat malu pada mereka, sangat ingin seperti mereka, semoga Allah mudahkan kami aamiin ya Mujiib...






Dari sini kami lanjut ke Malioboro setelah menunaikan sholat magrib dan isya. Di Malioboro acara belanja oleh-oleh dan segala macamnya. Sebenarnya harga di sini sama saja dengan Jakarta dan sekitarnya, tidak lantas lebih murah, namun karena moment, seringkali kita bela-belain buat belanja jauh-jauh. Kalau saya sendiri tidak terlalu suka belanja, apalagi belum ada yang menarik hati jadi tidak masalah. Saya hanya membeli kaos untuk kedua keponakan tersayang nun jauh di tanah seberang dan sebuah baju batik untuk ibuku, untuk ayah saya belum membelikannya karena belum ada yang cocok menurutku. Tepat jam 21.30 kami berkumpul dan kembali ke penginapan acara dilanjutkan dengan istirahat sampai menjelang subuh.

Pagi-pagi sekali kami berkemas dan siap melanjutkan perjalanan tentunya sarapan terlebih dahulu. Nah, ini sedikit tips kalau melakukan perjalanan, sebelum meninggalkan tempat penginapan atau tempat singgah sebaiknya ada yang bertugas memeriksa ulang, memastikan tidak ada sesuatu atau barang yang tertinggal. Pengalaman kemarin ada saja yang tertinggal camera, carger, handuk bahkan kaos kaki, untung saja ada tim evakuasi jadi bisa diselamatkan.

Agenda berlanjut sekaligus perjalanan pulang, singgah di sanggar batik, di sini kami belajar proses pembuatan batik tulis. Ternyata sangat rumit yah...bagaimana tidak, awalnya kita harus membuat gambarnya dulu baru kemudian diukir, sungguh memakan waktu yang sangat lama dan proses yang tak mudah, jadi wajarlah kalau harga batik tulis sangat tinggi. Nah, batik ini salah satu cagar budaya Indonesia lho, kita patut bersyukur punya nenek moyang pembatik, sehingga diakui dunia bahwa batik adalah hak paten Indonesia. Untuk cara membatik lebih lengap bisa dibaca disini yah...http://sinauwernowerno.blogspot.com/2012/11/proses-membuatan-batik-dan.html#



Next, kami menuju ke sentra oleh-oleh khas Jogja, ada yang tau? yah, betul sekali Bakpia Pathok. Dari dulu saya penasaran kenapa namanya bakpia pathok, saya kira cara membuatnya di pathok-pathok (baca: dipukul-pukul) saat pembuatannya, ternyata setelah saya tanya ke pembuatnya pathok itu nama daerah sana yang terkenal dengan bakpianya hehe...baru mudeng...




Proses pembuatan bakpia ini membutuhkan waktu yang cukup lama bisa sehari-dua hari dari pembuatan isinya sampai pembuatan kulitnya. Oya hasilnya juga bervariasi ada yang lembut, ada juga yang keras tergantung proses dan cara pembuatannya, harganyapun berbeda dari 15 ribu sampai 35 ribu.

Setelah dirasa cukup melihat proses pembuatan bakpia dan belanja buat oleh-oleh, kami perlahan-lahan melaju meninggalkan kota Yogyakarta, kota sejuta harapan, kota pendidikan, kota favorite buat study tour dan traveling, kota yang tidak ada angkotnya sehingga jalanan bisa lebh teratur dan lebih tenang. 

Dari kunjungan ke tempat batik dan bakpia, ada hikmah yang bisa diambil bahwa ada banyak cagar budaya yang perlu kita lestarikan sehingga bisa bermanfat bagi banyak orang. Belajar berwira usaha, ini juga dalam rangka membangun jiwa entrerpreneur siswa. Dan yang tak kalah penting adalah menumbuhkan sikap menghargai dan rasa syukur. Dengan melihat proses, dan mencoba melakukannya secara langsng diharapkan ada rasa menghargai sehingga tidak mudah mencela atau berlebih-lebihan dalam menggunakan atau mengkonsumsinya. Kemudian bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

Hari menjelang siang kami kembali melanjutkan perjalanan menuju candi Borobudur, perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, sebelum sampai kami singgah di rumah makan yang bernama unik "Orang Utan" saya kira banyak orang utannya ternyata hanya nama saja :). disini sholat zhuhur dijamak ashar karena kami akan berlanjut ke Borobudur.

Tiba di Borobudur, kali ke dua saya ke tempat ini , sebenarnya saya masih menyimpan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang mewariskan bangunan ini, dari pelajaran sejarah dulu disebutkan bahwa borobudur didirikan pada masa dinasti Syailendra pada akhir abad ke 8 M, namun akhir-akhir ini beredar hasil penelitian yang dilakukan oleh Fahmi Basya, serorang ahli matematika islam, beliau telah meneliti sejak puluhan tahun lalu, silahkan dibaca disini penjelasannya http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/09/27/136654-borobudur-peninggalan-nabi-sulaiman- . Dan saya sebenarnya juga masih bingung tentang kevalidan sejarah, wallahu a'lam bishowab, semoga ada kebenaran sejarah untuk masa yang akan datang. Oya, satu info lagi kalau mau belanja oleh-oleh, di Borobudur ini tempatnya, lebih murah dan lebih banyak variasinya dibandingkan Malioboro. 




Sore itu kami melanjutkan perjalanan pulang, rutenya tidak seperti biasa, kami melewati Magelang, Temangung, Ambarawa, dan Ungaran. Perjalanan rihlah berakhir di Pesantren Daarul Qur'an Semarang, tepatnya di Ungaran, bersilaturrahim ke pondok ini yang merupakan cabang Daarul Qur'an, namun sayang tidak sempat bertemu dengan para santrinya karena sampai di sini sudah jam 9 malam. Singgah ke sini pengalaman unik juga, kami harus berjalan kaki sejauh 2 km menaiki bukit karena bis tidak bisa masuk. Daarul Qur'an Semarang baru 2 tahun berdiri, baru ada tingkat SMP dan khusus laki-laki.



“Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al Ankabut : 20).

Alhamdulillah perjalanan mencari ilmu, menagkap hikmah, dan merajut kebersamaan, berakhir dengan sangat indah...semoga manfaat semuanya...







Rabu, 30 April 2014

Termakna Romantis




Romantis itu saat kita berkumpul dalam lingkaran cinta setiap pekan
membahas bermacam bekal menuju negeri akhirat nanti...
romantis itu saat pulang dari lingkaran cinta kehujanan sendirian...
romantis itu saat jiwamu lebur dalam ikatan ukhuwah karena Allah...
romantis itu saat kau tanya padaku apa kabar imanmu hari ini...
romantis itu saat kau tanya padaku sudah berapa tilawah hari ini...
romantis itu ketika sudut matamu gerimis saat berdo'a untuk saudara kita
dalam kesunyian...dalam pekatnya malam...
romantis itu saat ku ucap kata untukmu

"ana uhibbuki fillah" :)

lalu seperti apa romantismu?