Cari Blog Ini

Senin, 30 September 2013

Sungguh, Aku Masih Merindukanmu

                                                                          Hanif Aqil Al Fath

Pagi itu hari ke 27 Ramadhan, mentari bersinar cerah menembus hangat di kulit yang sedikit kaku lantaran suhu yang lumayan dingin dibawah rata-rata sekitar 20 0 C. Walaupun sudah padat kota yang dijuluki kota Kembang ini masih menyimpan dingin, ditambah lagi rimbunan pepohonan yang menjulang tinggi disekitar masjid Salman. Selama seminggu aku berdiam di sini. Rasanya tak mau meninggalkannya sampe akhir ramadhan, banyak ilmu yang kudapatkan juga teman2 baru. Hal menarik lainnya sholat malam yang luar biasa, kalau ditempat lain biasanya ku temukan bangun tahajud jam 3 dini hari, namun di Salman ini jam 1.00 – 3.00 dengan bacaan dua juz al qur’an. Kemudian bisa tidur sebentar atau melanjutkan tilawah sendiri baru kemudian jam 4.00 makan sahur.

Tibalah saatnya aku harus pulang karena rinduku semakin pekat, ingin segera bertemu dengan orang2 tercintaku. Sudah setahun tepat aku tak pulang. Bagi seorang anak rantau, moment lebaran adalah kesempatan yang sangat berharga untuk berjumpa dengan orang-orang tercinta, persiapan kepulangan ini sudah kulakukan jauh sebelum ramadhan agar pertemuan yang singkat ini berkualitas. Salah satunya kupersiapkan dengan do’a agar dipertemukan dalam ketaatan, keberkahan, dan limpahan kasih sayang.
Perjalanan yang ku tempuh cukup singkat seitar 50 menit dari Soeta sampai ke Fatmawati Bumi Raflesia. Namun belum berakhir sampai disitu aku harus melanjutkan perjalanan lebih kurang 3,5 jam lagi untuk sampai di rumah. Pertama kali yang kulihat adalah wajah ayah, karena ia yang menjemputku diterminal, segera kuraih tangannya dan kucium lama sekali, aku seperti menemukan obat kerinduan yang lama terpendam. Kemudian kulihat wajah kedua kakakku, adik2ku dan dua ponakanku, tak tahan lagi segera kupeluk erat dua mujahid kami yang sekarang sudah tumbuh semakin besar. Rasanya cepat sekali, ketika kutinggalkan lebaran lalu ponakan pertamaku belum setinggi ini, dan ponakan yang kedua belum bisa berjalan dan bicara, sekarang ia sudah pandai berlari, dan bicara. Aku baru tersadar ternyata waktu ini terus berjalan. Namun aku tidak menemukan ibu diantara mereka, segera saja ku tanyakan pada ayah ”Papa mane umak?”. Ayah menjawab singkat ”umak nga nunggu duma”. Segera kami meluncur ke rumah. Ketika sampai segera kupeluk erat ibunda tercinta.

Pagi yang cerah, burung-burung berkicau merdu, melompat-lompat bebas diantara ranting pepohonan rambutan dan belimbing di sekitar rumah, masih dibulan ramadhan tepatnya H-1 lebaran, kami semua berkumpul di ruang utama keluarga. Ayah sengaja mengumpulkan kami untuk berdiskusi dan sharing. Ini rutin ia lakukan setiap kami pulang, tujuannya baik sekali untuk membuka wacana pemikiran, mengetahui apa saja yang sudah kami lakukan dan rencana apa yang akan kami lakukan untuk berkontribusi membagun Indonesia tercinta ini. Yah  pemikiran ayah sudah mencapai kesana bahkan melampaui dunia, meskipun pendidikannya hanya mencapai tingkat SMP. Begitulah ayah, ia paling suka diskusi, walau kadang kami berbeda pendapat, namun akhirnya menemukan jalan penyelesaian.

Satu hal lagi yang aku kagumi dari ayah, beliau adalah motivator terhebat kami, sehingga kami anak-anaknya mencintai ilmu. Masih ku ingat dulu pesan ayah “cintailah ilmu dan jadilah orang yang berilmu, karena hidup di dunia ini dan di akhirat nanti harus dengan ilmu jika ingin selamat”. Kemudian beliau menambahkan mahfuzat arab “carilah ilmu sampai ke negeri cina”. Pesan inilah yang menjadi pembakar semangat kami anak-anaknya untuk terus belajar dan mengamalkan ilmu yang dimiliki, apapun itu agar dapat memberi kebermanfaatan secara luas dan terus menerus.

Ayah memulai diskusi dengan sebuah pertanyaan ”apa yang harus dilakukankan untuk memerangi kebodohan yang merajalela di masyarakat? contohnya pestapora, hura-hura, syirik, tidak menjalankan kewajiban sebagai penghambaan kepada Allah, merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki dll”. Tanggapan pertama oleh kakakku, ia menjelaskan bahwa untuk memperbaiki itu semua bertahap tidak bisa serta merta, dan yang paling pertama adalah memberikan keteladanan, sebagaimana Rosulullah SAW mendidik dengan keteladanan. Maka perlu untuk menjadi teladan bagi keluarga dan orang-orang sekitar dan bila memungkinkan kepada masyarakat luas. Tepatnya menjadi sholih dan mensholihkan orang lain. Kedua tanggapan dari adikku, ia menjelaskan bahwa perlu adanya perbaikan pendidikan, karena pendidikan sangat menunjang kemajuan berfikir seseorang, pembentukan lingkungan yang kondusif, karena lingkungan sangat besar perannya dalam membentuk pribadi dan karakter seseorang.

Terakhir saya melengkapi penjelasan mereka, bahwa yang harus dilakukan adalah memperbaiki agamanya (islam tentunya) karena jika baik agamanya maka akan baiklah semua tatanan kehidupannya. Karena islam adalah agama yang universal yang mengatur semua lini kehidupan; pendidikan, ekonomi, muamalah, hukum, pemerintahan, keluarga, masyarakat, Negara dll. Bila  baik agamanya, insya Allah ia akan menjadi pribadi yang berkarakter muslim yang kuat.  Ia akan sangat menghargai kehidupan, maka tak akan ada hal yang sia-sia yang ia lakukan, semua pasti ingin Ia lakukan dengan sebaik-baiknya mengharap Ridha dari Allah SWT. Karena hidup di dunia ini terlalu singkat untuk disia-siakan, maka lalukanlah kebaikan apapun yang bisa kita lakukan, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil dan mulai dari sekarang. Karena titik awal perbaikan masyarakat adalah dimulai dengan memperbaiki diri sendiri.

Saya sungguh bersyukur dipertemukan dalam lingkaran tarbiyah, saya seperti menemukan jalan lurus yang mengantarkan saya memahami hakikat penciptaan manusia. Di jalan inilah saya banyak belajar tentang islam yang kaffah. Bahwa kita tidak cukup hanya menjadi sholih saja namun harus juga mensholihkan orang lain, inilah dakwah yang diajarkan oleh Rosulullah SAW. Peduli terhadap keluarga, teman, orang sekitar, dan masyarakat secara luas. Seperti firman Allah ini:

 “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras,yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Kisah yang tak kalah menariknya selama kepulanganku adalah saat menjadi pengasuh dua keponakanku Hanif Aqil Al Fath dan Haziq Najib, mereka adalah anak-anak yang cerdas, lucu, juga cakep J. Pernah suatu ketika aku ditanya sama si sulung: Hanif, “bi sok, Allah tu apo? Aku menjawab “Allah itu Tuhan kita, tempat kita meminta, tempat kita bergantung, pemberi rizki kepada kita. Dengan wajah polosnya ia berkata “ooo, jadi Allah yang ngasih kito makan, ngasih kito minum, ngasih kito duit yo bi sok? Aku tersenyum mendengar pertanyaannya dan segera ku jawab “iyo semuanya Allah yang ngasih, makonyo kito harus rajin sholat, rajin ngaji, rajin berdo’a biar kito dikasih terus. Anak-anak usia mereka jangan dibiasakan menonton film-film kartun yang ga jelas, yang sekarang banyak tayang di tivi, karena itu akan membentuk karakter mereka. Nah solusi untuk anak-anak yang suka menonton, belilah cd film islami atau download permainan yang edukatif yang sekarang banyak beredar. Karena yang mereka lihat dan mereka dengar cepat sekali mereka tiru dan mereka rekam ke dalam otak sehingga itu yang berperan juga membentuk karakter mereka selain keteladanan dari orang tua dan orang-orang sekitar mereka. Untuk kedua ponakanku ini sengaja ku belikan mereka DVD film2 islami, cara belajar berdo’a dan belajar ngaji, walaupun mereka masih dibawah lima tahun. Ini untuk membiasakan anak2 belajar lebih awal supaya mempersiapkan mereka menjadi generasi Rabbani nantinya. Anak-anak usia dua tahun sebenarnya sudah bisa diajarkan dan diajak berkomunikasi tentang ilmu namun jangan dipaksakan belajar membaca, menulis ataupun berhitung. Karena pada usia ini anak-anak lebih cenderung menggunakan lisan dan ingatannya sehingga mereka sangat cepat meniru ucapan orang dewasa, kecenderungan ini ada baiknya kita manfaatkan untuk mengajarkan mereka hal-hal yang positif, mengajarkan do’a, surat-surat pendek dan kata-kata yang baik. Agar nantinya melekat dalam ingatan mereka.

Satu hal yang paling tidak mengenakkan bagi saya saat pulang kemarin, yah saat ditanya dan aku tak bisa menjawabnya. dimana-mana ditanya, sampe dirumahpun ditanya. Kalo kemarin2 ibu menanyakan hanya lewat telepon, kali ini beliau menanyakan dengan cukup serius dan bicara empat mata denganku “ nak, Ingatlah umurmu semakin bertambah, sementara adik-adikmu semakin besar, dan ibu dan ayah sudah semakin tua. Kapan kamu akan menikah? Apalagi yang kamu cari? apalagi yang ditunggu?”. Pertanyaan yang bertubi-tubi itu semakin membungkam mulutku, aku tak tau harus menjelaskan apa pada ibu.

Rasanya mendung semakin pekat menyelimuti pelupuk mataku, aku tak tahan lagi membendungnya dan perlahan ia menjadi gerimis yang semakin deras megalir di sudut mataku. Aku kelu, dadaku sesak. Lama kuhimpun kekuatan untuk sekedar menjelaskan” ibu, siapa yang tidak ingin menikah? Siapa yang tidak ingin segera membuat hati ibu dan ayah bahagia karena anak perempuannya telah menemukan teman sejatinya, anakmu ini manusia normal tentu saja aku sangat ingin bu... Hanya saja perlu kesabaran, mungkin saja Allah sedang memberiku kesempatan untuk menambah ilmu, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih matang agar bisa menjadi ibu yang terbaik bagi anak-anakku nanti, menjadi pendamping terbaik bagi imamku nanti. Karena menikah tak hanya sekedar menggugurkan status dari lajang menjadi menikah namun lebih dari itu membentuk generasi Robbani, membentuk keluarga sakinah mawaddah warohmah dan dakwah, mohan do’anya ya bu…agar aku diberi kesabaran dan kekuatan”. Akhirnya ibu berkata “ yah, orang yang sabar akan selamat nak, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang sabar dan selamat ya nak…” rasa haru langsung menyelimuti langit hatiku atas pengertian ibuku. Kupeluk erat tubuhnya dan kamipun berderai-derai dalam kebisuan.

Ibu, andai engkau tau apa yang kurasakan saat ini, tentu engkau takkan bertanya kapan aku menikah, karena aku tak pernah bisa menjawabnya. Hanya Allah yang tau kapan saat itu tiba, aku hanya bisa menanti, dalam penantian ini aku tidak hanya diam, tapi berharap kepada Allah terus berdo’a sekuat kemampuanku, dan terus berusaha memperbaiki diri ini, terus mencari ilmu yang masih sangat banyak yang tak ku tau. Saat ini itulah yang bisa kulakukan, terus berharap hanya kepada Allah, karena Dialah yang Maha Mengabulkan Harapan hambanya.

Kosa kata:
Umak: pangilan kepada ibu
Bi Sok: panggilan kepada bibi pertama dari ibu atau ayah
Mane: mana?
Nga: kamu
Duma: di rumah
Ngasih: memberi

                                                                   Hanif, Najib, dan ayah ibunya...

                                                                 Ayah, ibu dan adik-adik q tercinta :)

Senin, 16 September 2013

Refleksi Seperempat Abad Plus


Bilangan waktu terus berputar melewati lembah, sungai, gunung, bukitan, bahkan lautan dan samudera. Aku tersentak ternyata sudah seperempat abad lebih sudah kulalui kefanaan ini. Berharap ada keberkahan dalam setiap inci langkah yang aku lalui. Rintik-rintik hujan yang menemaniku malam ini menyanyikan senandung merdu kerinduan, ya rindu pada Robbku, rindu pada Rosulku, rindu untuk bertemu dalam keabadian, namun selalu hadir pertanyaan apa yang sudah kupersiapan untuk bertemu dengan Robbku, Rosulku? Rasanya persiapanku ini tak akan pernah cukup untuk bertemu dengan-Mu. Dalam kelemahanku, aku butuh bibingan-Mu, aku butuh kekuatan dari-Mu ya Robb...

Diusia yang yang terus berkurang, banyak harapan yang belum terwujud, impian yang masih mengantung di langit nan tinggi. Aku hanya bermohon kepada-Mu ya Robb, izinkan hamba menggapainya, beri kesempatan hamba untuk meraihnya, tunjukilah jalan untuk mencapainya…

Dalam lelah perjalanan ini aku masih berharap pada-Mu ya Robb, aku tak ingin menjadi orang yang berputus asa dari rahmat-Mu. Sungguh aku tau begitu banyak nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku…

Ya Robb…
Jadikanlah usiaku penuh barokah dan manfaat…
Jadikanlah bilangannya masa terindah pengabdianku kepada-Mu…
Jadikanlah setiap detik tarikan nafas ini bertasbih kepada-Mu…
Jadikanlah setiap terminal persinggahannya tempatku belajar memahami luasnya karunia-Mu…

Ya Robb…
Berikanlah kepadaku ilmu…
Dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sholih…
Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian…
Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga-Mu yang penuh kenikmatan…

Ya Robb…
Hapuslah kesedihan, kemalasan, keangkuhan yang seringkali singgah di langit hati ini…

Ya Robb…

Ya Tuhanku, tunjukilah  aku untuk mensyukuri nikmat yang  telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."

"Ya Allah, Jadikanlah di dalam hatiku dan di lidahku cahaya, jadikanlah dalam pendengaranku cahaya, jadikanlah dalam penglihatanku cahaya, jadikan dari belakangku cahaya, dari hadapanku, dari atasku dan dari bawahku cahaya, Ya Allah berilah aku cahaya”

Kamis, 29 Agustus 2013

AGAR DOA KITA DIKABULKAN ALLAH SWT.



Bismillaahirrohmaanirrohim … 


Tentu kita semua mempunyai harapan, impian yang ingin sekali kita raih, karena harapan adalah kehidupan, impian adalah semangat. Bila tak ada lagi harapan didalam dada mungkin kau tak lagi di dunia ini. Kalaulah tak punya lagi impian mungkin jiwamu telah kosong. Maka harapan dan impian haruslah slalu ada dilalam dada dan jiwa kita. Tapi dengan segala keterbatasan kita, kita perlu pertolongan kepada Yang Maha Mengabulkan.

Setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan. Bagi seorang muslim, pertolongan yang terbaik hanyalah datang dari sang Pencipta, Allah SWT.

Pertolongan itu akan datang jika kita meminta kepada-Nya. Inilah yang disebut berdo’a. Namun, seringkali cara kita salah ketika melakukannya sehingga doa kita tidak diijabah oleh-Nya.

Berikut beberapa tips yang insya Allah berguna bagi kita dalam berdoa yang diangkat dari Al-Qur’an dan Hadits.

Sebelum berdoa, siapkan diri kita dalam hal-hal berikut:

  1. Hadapkan hati kita langsung kepada Allah SWT. Jangan lewat siapapun atau sesuatupun. Waspadai sikap syirik, dosa yang paling besar.
  2. Siapkan hati untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa. Camkan bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah amat menyukai orang yang bersungguh-sungguh ketika ia berdoa”.
  3. Hadirkan hati kita kepada Allah SWT dengan penuh kekhusyukan.
  4. Yakinkan selalu harta, makanan, minuman dan pakaian kita didapatkan dengan cara yang halal.
  5. Luruskan niat berdoa. Jangan berdoa untuk melakukan dosa, khianat atau memutuskan silaturahim.
  6. Berpikirlah positif. Yakinlah bahwa Allah SWT akan mendengar doa kita dan akan mengabulkannya.
  7. Jika memungkinkan, usahakan mengambil air wudhu terlebih dahulu.

Cara berdoa yang -insya Allah- baik adalah sebagai berikut. Ini adalah urutan langkah paling minimal dalam berdoa:

  1. Mulailah dengan basmalah.
  2. Memujilah kepada Allah SWT. minimal sekali ucapkan “Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin”.
  3. Bersholawatlah untuk Rasulullah SAW.Dari Annas bin Malik: “Tidaklah seseorang berdoa, kecuali antara dia dan langit ada hijab, sampai dia bershalawat kepada nabi”.
  4. Sebutlah salah satu atau beberapa nama Allah SWT (asmaul husna) dengan santun dan penuh kerendahan hati. “Dan Allah memiliki asmaul husna, maka berdoalah dengan menyebut asmaa-ul husna itu “(QS Al Araf : 180)
  5. Lanjutkan asmaul husna tadi dengan isi permintaan kita. Akan lebih baik jika arti asmaul husna-Nya sesuai dengan isi permintaan kita. Pada langkah ini, sebaiknya juga menggunakan doa yang ada dalam Al-Qur’an atau dicontohkan Rasulullah SAW, namun jika kita tidak hafal, bisa dengan bahasa sendiri.

Contoh doa yang ada dalam Al-Quran: Rabbij’alnii muqiima shalaati wamin dzurriyaatii (QS Ibrahim). artinya: Ya Allah jadikanlah saya dan keturunan saya sebagai orang yang dapat menegakkan shalat.

Contoh doa yang dicontohkan Rasulullah SAW: Allahummakfinii bihalaallika an haraamika wa aghninii bi fadhlika ‘amman siwaak (HR Tirmidzi). artinya : Ya Allah berilah saya rizki yang halal, bukan yang haram. Dan kekayaan (rizki yang melimpah) yang Engkau ridhai, bukan yang engkau murkai.

6. Tutup doa dengan sholawat kembali untuk Rasulullah SAW, memuji Allah SWT sekali lagi, lalu ucapkan Aamiin.

Berdasarkan urutan di atas, berikut adalah contoh urutan doa paling minimal:
  • “Bismillahirrahmaanirrahiim” (dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Penyayang)
  • “Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin” (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam)
  • “Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad” (ya Allah, berilah keselamatan pada Rasulullah Muhammad SAW)
  • “Ya Allah ya Rozak (ya Allah ya Maha Pemberi Rezeki) Hari ini hamba akan berdagang, mohon berilah hamba rizki yang halal dan melimpah“
  • “Washollallahi ala sayyidina Muhammad, walhamdulillahi robbil ‘aalamiin, Amiin.” (dan limpahkan keselamatan dari sisiMu pada Rasulullah Muhammad SAW, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, perkenankanlah doa hamba)

Ada yang berpendapat bahwa ketika doa kita benar dan insya Allah makbul, kita akan merasakan minimal salah satu hal ini. Wallahu’alam bisshawab:

  • Ingin menangis atau bahkan menangis ketika berdoa.
  • Dada terasa bergetar dengan rasa hangat.
  • Terasa ada sesuatu yang menakutkan dalam hati kita.

Ada beberapa jenis doa yang sangat makbul, yaitu:
  1.  Doa orang yang sedang dalam kondisi terdesak.
  2. Doa orang yang teraniaya atau terzalimi.
  3. Doa anak yang sholeh dan berbuat baik pada ibu bapaknya.
  4. Doa seorang muslim yang tidak (jarang sekali) berbuat zalim dan tidak pernah memutuskan silaturahim.

Selain cara berdo'a, yang Insya Allah berpengaruh juga terhadap pengabulan do'a adalah waktunya, berikut ini beberapa waktu terbaik dan mustajab untuk berdo'a:

1. Waktu sepertiga malam yang akhir

Sesungguhnya Rasulullah bersabda:
"Allah akan turun ke langit dunia setiap malam yaitu sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirman:" Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka aku akan menerima permintaannya dan siapa yang meminta ampunan dari-Ku maka Aku akan mengampuninya ". (HR Bukhari dan Muslim)

2. Saat berbuka puasa bagi orang yang berpuasa
"Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika saat berbuka ada doa yang tidak ditolak". (HR Ibnu Majah)

3. Doa setelah sholat fardhu
"Doa itu mustajab pada waktu malam dan selesai solat fardu" (HR Al-Tirmizi)

4. Doa di dalam sujud
"Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa karena saat itu sangat tepat untuk dikabulkan" (HR Muslim)
"Saat terdekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika waktu sujud, maka perbanyaklah berdoa" (HR Muslim)

5. Satu saat pada hari Jumat
"Sesungguhnya pada hari Jum'at ada satu saat yang tidaklah bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut". (HR Bukhari dan Muslim)

6. Ketika Lailatulqadar
Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah s.a.w:
"Jika saya bertemu dengan Lailatul Qadar, apakah yang harus saya baca? Jawab Rasulullah saw sebutlah olehmu ‘Allohumma Innaka ‘Afuwwun Kariim, Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia. Engkau  menyukai kemaafan. maka, maafkanlah aku). "(HR Al-Tirmidzi, Ibnu Majah & Al-Nasa'ie, lihat shahih Al-Tirmidzi)

7. Ketika Hari Arafah
Dari 'Amr bin Syu'aib Radhiyallahu' anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah". (Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da'waat 13/83)

8. Doa antara Azan dan Iqamah
"Tidaklah ditolak doa diantara azan dan iqamah." (HR Al-Tirmizi)

9. Ketika Hujan
Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu hujan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. (Fathul Qadir 3/340)

Itulah 9 waktu terbaik dan mustajab yang bisa kita gunakan untuk berdoa. Semoga dengan berdoa pada waktu-waktu tersebut, doa kita cepat dikabulkan oleh Allah SWT. Aamiin…

Maka bila kau mempunyai harapan, berdo'alah, bila kau mempunyai impian berdo'alah, bila kau berharap dipertemukan dengan seseorang maka berdo'alah, karena hal yang paling manis adalah ketika dua orang saling merindu, namun tak pernah bertemu dan tak pernah bertegur sapa saling mendo'akan dalam diam, cukuplah baginya saling menyapa dalam doa. Dan jangan lupa ikhtiar sebagai bentuk kesungguhanmu. 

Semoga kita semua bisa berdo'a dengan baik dan selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Aamiin ya Rabb…


Wallahua’lam bish Showwab ….

Barakallahu fikum …


disadur dari berbagai sumber.


Kamis, 25 Juli 2013

Sejarah Emas Islam di Ramadhan

Ramadhan adalah bulan mulia penuh barokah, betapa tidak seluruh amal kebaikan yang kita lakukan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Ramadhan adalah bulan tarbiyah, Ramadhan juga bulan perjuangan. Mari kita intip beberapa fakta sejarah dan kegemilangan Islam pada bulan suci Ramadhan. Hal ini sekaligus pembuktian bahwa Ramadhan bukan sebuah bulan yang me’legal’kan rasa malas dan lemah. Bahkan sebaliknya, Ramadhan dikategorikan sebagai bulan yang membuat kuat, dan menjadikan kemenangan dalam hal apapun. Tetapi, bukan juga pembuktian bahwa Ramadhan identik dengan perang, substansi yang dibangun dalam kegemilangan itu adalah, betapa kekuatan ruhiyah menjadi sangat fenomenal melebihi kekuatan jasmani. Selain itu, sejarah ingin membuktikan bahwa shaum di bulan Ramadhan, bukan halangan untuk ‘berbuat’ sesuatu. Baik yang bersifat fisik maupun hal lain yang membutuhkan tenaga extra. Baiklah, mari kita simak sejarah singkat rentetan peperangan sekaligus kemenangan yang terjadi pada bulan suci Ramadhan.

1. Perang Badar.
Terjadi pada Ramadhan, tahun 2 H. Perang ini merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan umat Islam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikan dan kebatilan. Terjadi pada pagi Jum’at, 17 Ramadhan 2H di Badar. Kemenangan pasukan Islam di bawah pimpinan Rasulullah SAW dengan 300 pasukan mengalahkan 1000 tentara musyrikin Makkah.

2. Perang Khandaq. 
Terjadi pada Ramadhan, tahun 5H. Persiapan perang yang dilakukan dengan menggali parit (khandaq) sekeliling kota Madinah. Sebuah strategi yang tidak pernah digunakan sebelumnya oleh bangsa Arab. Hal ini diusulkan oleh Salman Al-Farisyi, umat Islam berhasil memecah belah pasukan musuh dan mendapat kemenangan gemilang.

3. Fathul Makkah (Pembebasan Kota Makkah). 
Perjanjian Hudaibiyah.Terjadi pada 10 Ramadhan, tahun 8H, bertepatan dengan tahun 628 M. Perjanjian ini diadakan untuk kebebasan kaum muslimin beribadah Haji di Makkah, dari teror-teror kaum kafir Quraisy. Rasulullah SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah. Pasukan Islam menguasai Makkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Merekapun menghancurkan patung-patung dan berhala yang ditempatkan di dalam dan di sekitar Ka'bah. Penaklukan itu menjadi sejarah yang tak pernah dilupakan dalam perjuangan Islam.

4. Perang Tabuk. 
Terjadi pada Ramadhan, tahun 9H. Pada tahun 629 M Rasulullah SAW memutuskan untuk melakukan aksi preventif, yakni ekspedisi ke wilayah tabuk yang berbatasan dengan Romawi. Setelah sampai di Tabuk, umat Islam tidak menemukan pasukan Bizantium ataupun sekutunya, alias mereka (pasukan Romawi) lempar kain putih atau menyerah.

5. Ekspedisi Yaman. 
Terjadi pada Ramadhan, tahun 10H. Rasulullah SAW mengutus pasukan dibawah pimpinan Ali bin Abi Thalib ke Yaman dengan membawa surat Nabi. Satu suku yang berpengaruh di Yaman langsung menerima Islam dan masuk Islam pada hari itu juga. Kemudian mereka sholat berjemaah bersama Ali Ra. di hari yang sama.

6. Pembebasan Andalusia (Spanyol). 
Terjadi pada Ramadhan 92H. Panglima tentara Islam, Tariq bin Ziyad memimpin 12.000 tentara Islam berhadapan dengan tentara Spanyol berjumlah 90.000 yang dipimpin oleh raja Frederick. Pada peperangan ini, untuk menambah semangat pasukannya, Tariq membakar kapal-kapal perang mereka sebelum bertempur dengan tentara Raja Frederick. Beliau berkata: “Sesungguhnya, surga Allah terbentang luas dihadapan kita, dan dibelakang kita terbentangnya laut. Kalian semua hanya ada dua pilihan, apakah mati tenggelam, atau mati syahid!”

7. Pembebasan Palestina.
Terjadi pada Ramadhan 584H. Panglima tentara Islam, Salahuddin Al-Ayyubi mendapat kemenangan besar atas tentara Salib. Tentara Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai tentara Salib. Ketika bulan Ramadhan, penasihat-penasihat Salahuddin menyarankan agar dia istirahat karena risau ajalnya tiba. Tetapi Salahuddin menjawab: “Umur itu pendek dan ajal itu senantiasa mengancam”. Kemudian tentara Islam yang dipimpinnya terus berperang dan berjaya merampas benteng Shafad yang kuat. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan.

8. Perang Ain Jalut (Tentara Islam Mengalahkan Tentara Mongol). 
Terjadi pada Ramadhan 658H. Saat tentara Tartar memasuki Baghdad, mereka membunuh 1,8 juta kaum Muslimin. Musibah ini disambut oleh Saifudin Qutuz, pemerintah Mesir ketika itu dengan mengumpulkan semua kekuatan kaum Muslim untuk menghancurkan tentara Tartar dan bertemu dengan mereka pada Jum’at, 6 September 1260 M di Ain Jalut. Peperangan ini turut disertai oleh isteri Sultan Saifudin Qutuz, Jullanar yang akhirnya syahid di Medan pertempuran. Perang ini kemudian dimenangkan oleh pasukan Islam dengan gemilang.

9. Perang Yakhliz.
Pada 15 Ramadhan 1294 Hijriyah, tentara Islam Dinasti Ottoman yang dipimpin oleh Ahmad Mukhtar Basya dengan jumlah 34.000 pasukan mengalahkan tentara Rusia yang berjumlah 740.000. Sebanyak 10.000 tentara rusia tewas dalam pertempuran itu. Ia menjadi kebanggaan umat Islam  mempertahankan agama yang diancamkan oleh pemerintahan Tzar di Rusia.

10. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 
Terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 H. Hari itu pukul 10.00 WIB di rumah kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur 56 – Jakarta Pusat, Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dilanjutkan dengan pengibaran bendera (Sangsaka) Merah Putih yang menandakan merdekanya bangsa Indonesia setelah hampir 350 tahun dijajah oleh bangsa asing.

Masih banyak tentunya kejayaan Islam di bulan Ramadhan. Bulan yang mengajarkan umat Islam tentang hakikat sebuah kemenangan. Laiknya suatu kemenangan yang dinanti bagi umat Islam yang berpuasa, berjuang dan menanti suatu kemenangan di hari-hari terakhir Ramadhan. Akankah perjuangan ini berdarah-darah, atau selamat dengan panji kemenangan yang menakjubkan.

Sungguh luar biasa perjuangan para pendahulu kita, perlu kemudian kita renungi, dan hadirkan sebuah pertanyaan "pada ramadhan yang ke 17 ini apa yang sudah kita perbuat? apa yang sudah kita menangkan?"agar menjadi pelecut semangat bagi kita. Kalaupun belum sanggup berbuat yang lebih besar, jikapun belum bisa memenangkan pertarungan, minimal kita sudah melakukan untuk menuju  berbuat yang lebih besar, atau menuju kemenagan yang lebih besar, dengan keshalihan pribadi kita menuju keshalihan ummat.


Semangat menjadi pribadi yang shalih, shalihah untuk menuju keshalihan ummat di bulan Ramadhan dan bulan-bulan berikutnya...

Wallahu a'lam bisshowab...


disadur dari berbagai sumber.

Selasa, 23 Juli 2013

Memendam Rindu

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Riak-riak fajar membuyarkan kehenigan malamku saat berkhalwat kepada Robbku, ku dengar suara ramai di luar, mereka adalah para santri yang sudah bangun dari tadi menunaikan sahur dan bersiap-siap menyambut subuh, Ramadhan tahun ini ada yang sedikit berbeda dari sebelumnya, aku benar-benar tinggal di lingkungan pesantren bersatu padu dengan para santri dan ustazah yang lainnya. Awalnya merasa terganggu dengan suara-suara bising mereka, namun akhirnya terbiasa juga. Nikmati saja setiap fase ini. Sebelumnya kami para guru tinggal di wisma luar pesantren namun setelah gedung-gedungnya jadi kami di pindahkan ke dalam. Seru juga, benar-benar merasakan alam pesantren.

Hari pertama Ramadhan seperti biasa, masih kulalui bersama sahabat-sahabatku, belum bersama seseorang yang akan menggenapkan agamaku, walaupun cita-citaku ramadhan kali ini sudah bersama seseorang, namun Allah belum berkehendak. Syukuri saja apa yang ada, jangan berputus asa dari rahmat Allah, harapan masih ada selama mentari masih bersinar.

Sebelum ramadhan lalu aku menuliskan target-target yang ingin ku capai di bulan ini, terkait dengan ibadah-ibadah mahdhoh dan kegiatan sosial lainnya. Alhamdulillah targetan-targetan itu terealisasi dengan baik, semua atas izin Allah SWT dan secara manusiawi tak terlepas dari persiapan pra ramadhan yang pernah ku posting beberapa waktu lalu, dan ternyata persiapan yang lebih matang dan sungguh-sungguh membuahkan hasil yang baik pula. Tak ada masalah ketika melakukan ibadah-ibadah sunnah apalagi wajib. Bangunpun Alhamdulillah tak ada rasa malas. 

Hampir setiap malam tarawih kami di imami oleh syeikh langsung dari arab, bacaannya Subhanallah, bikin hati terasa lapang, setiap tarawih menghabiskan ½ juz Al Qur’an, di mulai dari juz 1 dengan 23 roka'at sehingga waktu tarawih kami sekitar 1,5 jam, lumayan riadho yang paling menyehatkan dan bernilai pahala insya Allah.

Targetan-targetan hanyalah pelecut semangat bagi kita dalam menjalaninya namun yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita tetap istiqomah melakukannya walupun dalam kondisi kepayahan yang luar biasa bahkan diharapkan bisa istiqomah di bulan-bulan berikutnya.

Hari ke lima ramadhan aku bersama sahabatku: mb Nur menempuh perjalanan yang cukup jauh dan penuh perjuangan dalam hujan dan badai.  Dengan mengendarai motor kami menghadiri kajian yang selalu popular buat para lajang, apalagi kalau bukan kajian pra nikah, temanya juga sangat provokatif “Nikah Yuk” bikin para lajang terpanggil.  Dalam kajian itu intinya menikah jangan menunggu mapan, apalagi menikah adalah untuk menjaga diri dari maksiat, maka bersegeralah. Kelak Allah yang akan mencukupkanmu. Namun bila belum dipertemukan maka sabar dan sholat adalah kunci utama bagi orang-orang yang beriman. 

Terakhir yang sedikit menguras perhatian jamaah adalah pertanyaan dari salah seorang peserta “bagaimana kalau menikah bedah haraqah? Sang ustad menjelaskan, boleh-boleh saja asalkan siap dengan segala resikonya, artinya jika berbeda pandangan maka sedikit banyak pasti akan berbeda dalam hal visi dan misi membangun keluarga, dan gesekan-gesekan lainnya. Maka perlu manajemen yang pas dan rapi agar tercipta harmonisasi dalam rumah tangga. Diakhir penjelasan ustad menyarankan “bila masih ada yang sejalan kenapa harus berpindah ke lain hati? yang bikin para peserta tertawa, dan menurutku juga begitu. Namun kata beliau itu adalah pilihan, semuanya adalah kita yang memilih tentunya dengan campur tangan Allah SWT.

Hari ke 12 ramadhan liburpun tiba, kami libur sejak tanggal 22 juli - 20 agustus, lumayan sebulan full waktu libur, yah sekolah kami memang berbeda dengan sekolah yang lainnya. Kami tidak ada libur setelah ujian akhir semester kemarin, karenanya sekalian libur lebaran, pertimbangannya karena para santri dan guru di sini banyak berasal dari daerah yang jauh: dari sabang sampai merauke. 

Agendaku tidak langsung pulang, ku ingin mengisi hari-hari ramadhanku dengan penuh makna lagi, meskipun hatiku sudah sangat rindu pada ibunda dan ayah, serta saudara dan keponakanku yang lucu. Terbayang wajah ibu dan ayah yang penuh kasih, masih kurasakan pelukan hangatnya setahun lalu. Ini adalah kali pertamaku tak pulang ke pangkuannya selama setahun. Seminggu yang lalu mereka menelponku, menanyakan kepastian kapan kepulanganku, aku jelaskan dengan hati-hati bahwa aku belum bisa pulang lebih cepat, karena ingin menunaikan targetan ramdhanku yang ke 13: I’tikaf. 

Dengan lemah ibu menjawab “ya…ngak papa bila itu baik untukmu nak”, meskipun aku sungguh tau dalam hatinya sangat mengharapkan kepulanganku. Aku terharu, akhirnya mencair juga bongkahan es di kutub mataku. Terimakasih ibu, ayah atas pengertianmu…bukan ku tak ingin segera berjumpa denganmu, aku hanya tidak ingin melewati ramadhan kali ini dengan biasa-biasa saja, aku ingin lebih bermakna lagi, bertemu lebih lama dengan Robbku, biar ku lepaskan semua gundah gulana yang seringkali singgah di langit hatiku. Tenanglah bunda, ayah, walaupun kita jarang bertemu jasad, tapi setiap  saat jiwa dan hati kita bertemu dalam setiap untaian do’aku untukmu: ibunda, ayah…aku mencintaimu karena Allah…




Senin, 10 Juni 2013

Apa yang dipersiapkan menyambut Ramadhan?


Hari ini memasuki 1 sya’ban 1434 H, yaitu H-29 ramadhan, apa yang telah dipersiapkan menyambutnya? semoga kita semua telah mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya. Jikapun masih bingung atau masih ada yang kurang, semoga tulisan ini bisa menjadi pencerahan. Bagi muslim yang ideal, menyambut Ramadhan adalah sebuah kenikmatan tersendiri, namun ia menyambutnya dengan proporsional. Dalam suka cita, ia mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga bisa beramal di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Ada empat persiapan yang kita
perlukan dalam menyambut bulan Ramadhan, khususnya Ramadhan 1434 H ini:

Pertama, persiapan ruhiyah
Persiapan ruhiyah yang kita perlukan adalah dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.

Allah SWT menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya:
Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams : 9)

Maka dalam waktu satu bulan ke depan kita perlu melakukan evaluasi diri, muhasabah, apakah penyakit-penyakit aqidah masih bersarang dalam diri kita. Sungguh sangat rugi, jika kita susah payah beramal, namun masih ada kesyirikan yang bersemayam dalam diri kita. Tak peduli sebesar apapun amal kita, jika kita syirik, menyekutukan Allah, maka amal-amal kita tidak akan diterima.

Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al Zumar: 65)

Setelah melakukan muhasabah, selanjutnya kita bermujahadah untuk menghilangkan penyakit-penyakit itu. Alangkah indahnya saat Ramadhan tiba dan kita benar-benar dalam kondisi ikhlas menapaki hari-hari istimewa yang dibawa oleh tamu mulia itu. Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.
Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

persiapan kedua dalam menyambut Ramadhan adalah persiapan fikriyah.

Agar Ramadhan kita benar-benar efektif, kita perlu membekali diri dengan persiapan fikriyah. Sebelum Ramadhan tiba sebaiknya kita telah membekali diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah di bulan Ramadhan. Tentang kewajiban puasa, keutamaan puasa, hikmah puasa, syarat dan rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta sunnah-sunnah puasa. Juga tarawih, i'tikaf, zakat, dan sebagainya. Untuk itu kita bisa mengkaji Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiq, Fiqih Puasa-nya Dr. Yusuf Qardahawi, dan lain-lain. Inilah rahasia mengapa Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal (Ilmu sebelum Ucapan dan Amal). Tanpa ilmu bagaimana kita bisa beramal selama bulan Ramadhan dengan benar?

Pemahaman ilmu syar'i ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang. Karenanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan maka ia difahamkan tentang (ilmu) agama (Muttafaq 'Alaih).

Persiapan ketiga dalam menyambut Ramadhan adalah persiapan jasadiyah.

Ramadhan membutuhkan persiapan jasadiyah yang baik. Tanpa persiapan memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan ibadah kita tidak bisa berjalan normal. Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Kita diharapkan tetap produktif dengan pekerjaan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa. Kita juga akan melakukan ibadah dalam porsi yang lebih lama dari sebelumnya. Shalat tarawih, misalnya.

Karenanya kita perlu mempersiapkan jasadiyah kita dengan berolah raga secara teratur, menjaga kesehatan badan, dan kebersihan lingkungan, atau berbekam misalnya agar tubuh lebih kuat. Di sini, logika akal bertemu dengan keutamaan syar'i dalam hadits nabi: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim).

Persiapan keempat dalam menyambut Ramadhan adalah persiapan maaliyah, persiapan harta.

Persiapan maaliyah yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramdhan bukanlah untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, dan lain-lain. Kita justru memerlukan sejumlah dana untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar (buka puasa) orang lain dan membantu orang yang membutuhkan. Tentu saja bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab dan haul wajib mempersiapkan zakatnya. Bahkan, jika kita mampu berumrah di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang bernilai luar biasa; seperti nilai haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Waktu terus berputar, jangan sia-siakan waktu yang masih tersisa, maka sambutlah ramadhan ini dengan sebaik-baiknya agar kita mampu meraihnya dengan gelar “Muttaqin”. Salah satu tuntunan Allah SWT adalah mensegarakan amal kebaikan dalam upaya mendapatkan ampunan. Sebagaimana firman-Nya:

Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi; disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali Imran : 133)

Maka demikian pula kita mensegerakan diri dalam menyambut Ramadhan dengan persiapan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah dan maaliyah kita. Semoga dengan upaya kita mempersiapkan diri dalam menyambut Ramadhan 1434 H ini, Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan Ramadhan, lalu memberikan taufiq kepada kita untuk mendapatkan keberkahan Ramadhan itu. Selama sebulan penuh kita beramal di bulan suci lagi mulia itu, disertai dengan rahmat dan ampunan Allah SWT, hingga menjadikan kita diridhai-Nya lalu dianugerahi surga. Aamiin…

Disadur dari berbagai sumber.

Wallahua’lam bish showab…


Jumat, 07 Juni 2013

MELUKIS RINDU




Bismillaahirrohmaanirrohiiim...

Di balik bukit-bukit nan tinggi bunga-bunga bermekaran menghiasi taman cinta yang terhampar indah bak taman surga. Kau ingin sekali bisa mencapainya, meski kau tak tau apa yang akan kau hadapi nanti. Itulah rindu, kau berusaha sekuat kemampuanmu untuk bisa bersamanya. Namun jalan menuju kesana tidaklah mulus dan indah bertaburan bunga. Banyak jurang menganga yang siap menggelincirkan kala lengah, bertaburan duri dan kerikil tajam yang siap merentaskan kaki, angin kencang yang sewaktu-waktu datang memnghampiri dan debu-debu jalanan yang mengotori wajah. Kau lelah, kau kepayahan. Namun kau tetap ingin menggapainya, kau berlari bahkan kadang tertatih. Sepanjang perjalanan tak jarang gerimis membasahi sudut hatimu.

Kadang kau diam sesaat untuk memulihkan tenaga agar bisa melanjutkan perjalanan. Semua kau lalui dengan kesabaran dan kepasrahan. Kau ingin sekali diberi kesempatan bertemu dengannya, merajut cinta bersamanya untuk menggapai cinta tertinggi kepada Robbmu. Kau yakin sebentar lagi kau akan dipertemukan dengannya, kau terus berdo’a, dan tentu saja kau tak lupa mempersiapkan segala yang terbaik untuk bertemu dengannya, agar kelak kau tak kehabisan tenaga atau melemah saat bertemu dengannya. Agar kelak kau dapat berbuat kebaikan lebih dahsyat dari yang pernah kau lakukan.

Dalam kegersangan hati, rindumu semakin membara, menyala-nyala bak kobaran api yang membumi hanguskan kesombongan dan keangkuhan. Memancarkan cahaya yang menerangi taman hatimu. Bersinar kemilau disetiap relung jiwamu. Kau tersungkur dalam dekapan kerinduan yang semakin mendalam...

Ahlan wa sahlan yang kurindu: Marhaban ya ramadhan…

Semoga aku bisa membersamaimu dalam ketaatan dan menghapus kelelahan dan kepayahan yang terukir dalam perjalananku…

Ya Robb izinkan aku mencintai-Mu dalam setiap hembusan nafasku
Ya Robb izinkan aku merajut cinta bersama ramadhan-Mu
Ya Robb peluklah erat diriku dalam naungan cinta-Mu
Ya Robb tetapkanlah hatiku dalam ketaatan kepada-Mu…

aamiin Allahumma aamiin...

Kamis, 30 Mei 2013

Tour Tarbawiyah DAQU SCHOOL 2013

Menyenangkan sekali menjadi muslim, karena untuk melakukan sebuah perjalanan saja ada perintahnya dalam Al Qur’an. Bukan hanya perintah shalat, puasa atau haji, namun juga perintah berjalan. Coba kita mulai tadarus ayat-ayat tersebut:

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (Ali Imran : 137).

“Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu” (Al An’am : 11).

“Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (An Nahl : 36).

“Katakanlah: “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa” (An Naml : 69).

“Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al Ankabut : 20).

Ayat-ayat di atas berbentuk perintah untuk berjalan di muka bumi dengan tujuan untuk mengambil hikmah, ibrah, pelajaran, spirit dari kisah-kisah kemanusiaan. Terbentang ayat-ayat kauniyah di alam semesta yang amat luas, tersedia berbagai pelajaran dan hikmah kehidupan dalam setiap kelompok masyarakat di muka bumi, terdapat spirit dalam sejarah kehidupan manusia dari zaman ke zaman. Maka kami mencoba melakukan perjalanan ini. Harapannya dapat mengambil hikmah dan spirit darinya.


Perjalanan dimulai pukul 5.30 pagi pada hari Sabtu, 25 Mei 2013. Setelah sholat subuh berjamaah kami menempuh perjalanan lebih kurang 3 jam menuju Subang, tujuan pertama ke pabrik pembuatan sepatu, pabrik ini masih tergolong home industri, karena masih memanfaatkan rumah sebagai tempat produksi dan jumlah karyawannyapun masih sedikit sekitar 3-4 orang, namun demikian produknya sudah mencapai ekspor. uniknya di sini kita bisa memesan model sepatu atau sendal apa saja yang kita inginkan, kalau yang tersedia belum ada yang cocok buat kita.

                             Ikutan mengaduk-aduk :)
Setelah dari sana kami meluncur ke pabrik dodol nanas. Melihat proses pembuatannya sampai pemasarannya. ternyata disini tidak hanya dodol yang dibikin, ada wajik, kerupuk, selai sampai keripik nanas     .Dodol dan wajik hampir sama bedanya dodol memakai santan kelapa sedangkan wajik memakai kelapa parut, nah karena perbedaan inilah wajik lebih cepat kadaluarsanya karena kelapa parut lebih cepat tengik. dari 20 kg bahan dasar nanas dihasilkan 18 kg dodol atau wajik, dengan tambahan tepung dan gula pasir. prosesnya
higenis, tanpa bahan pengawet ataupun pemanis buatan. Pembuatan keripik lebih rumit, karena harus menggunakan alat khusus, kami tidak sempat melihat proses pembuatannya karena pada saat itu tidak sedang produksi, pembuatan keripik hanya 2 kali seminggu. Selain prosesnya yang rumit juga memerlukan bahan baku yang tidak sedikit, untuk menghasilkan 20 kg keripik memerlukan 400 kg nanas, sehingga sangat wajar harganyapun luar biasa, 15000 per ons. Setelah melihat proses pembuatan kami diberi pengarahan dari mulai berdirinya usaha ini sampai mereka meraih penghargaan dari Kementan atas keberhasilannya memberdayakan potensi lokal. Sehingga nanas dijadikan icon kabupaten Subang. pemasarannya selain membuka toko-toko sentra oleh-oleh yang berjejer di pinggir jalan mereka juga telah mengirim produknya ke Bandung dan sekitarnya.

                                                           Produk hasil wajik hampir jadi
                                                                       Pengarahan

Masih di daerah Subang, kami menuju ke Pesantren yang unik, yang memadukan kurikulum pesantren dengan diknas dan wirausaha: Asy-Syifa Boarding School. Di sini kami belajar proses pemeliharaan sapi perah, dalam sehari seekor sapi normal akan menghasilkan sekitar 20 liter susu, nah kalo punya 10 sapi kalikan saja. Sebenarnya negeri kita punya potensi luar biasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun ekspor, tapi sayang kebijakan pemerintah seringkali tidak berpihak pada rakyat karena campur tangan asing,  bahkan karena kepentingan pribadi dan golongan. Jadi ingat kasus pembatasan kuota impor daging sapi oleh Mentan, maksudnya untuk membantu pengembangan dan kesejahteraan peternak sapi lokal. Eh beritanya malah dialihkan pada kasus suap yang tidak jelas dan aneh. Selain ternak sapi pesantren ini juga menggalakkan bidang pertanian, karena daerah ini potensial tanaman hortikultura sehingga ditanam sayur-mayur dan buah-buahan. Hasil panen dijual maupun untuk konsumsi sendiri. Sayang di sini kami tak sempat bertemu dengan para santrinya maupun para pendidiknya karena sedang ada acara wisudah santri tingkat akhir. Sistem pendidikan di sini komprehensif memadukan tiga simpul utama yaitu agama, pengetahuan dan wirausaha.

                                                       areal peternakan jauh dari pemukiman santri

                                                  pengarahan tentang peternakan sapi
                                              perkebunan di sekitar pemukiman pesantren

Hari beranjak sore, sesi jalan-jalan dimulai, kami mampir di perkebunan teh Ciater. Hamparan hijau tanaman  pemberi rasa rileks ini membuat sejuk mata memandang, Subhanallah... sejuk dipandang, nikmat dirasakan...Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? butiran hujan yang jatuh membasahi bumi kala itu tidak menghalangi kami berfotoria :) malam menjelang kami bermalam di villa Ciater. Pagi-pagi sekali kami melanjutkan perjalanan menuju kota Bandung, tujuan berikutnya Ciwidey dan Kawah Putih.


                                     perkebunan teh sepanjang perjalanan menuju kota Bandung

 Lumayan dari Ciater menuju ke tempat ini memakan waktu sekitar 4 jam. Di kawah ini bau belerang sangat menyengat disarankan memakai masker bila tidak kuat, karena akan menyebabkan batuk dan sesak nafas. semakin siang bau belerang semakin menyengat karena pengaruh sinar matahari. Tempat ini dinamakan kawah putih karena warnanya putih oleh belerang. Belerang ini adalah kekayaan alam yang patut kita syukuri karena banyak sekali manfaatnya, selain untuk kesehatan kulit karena anti bakteri dan anti jamur juga untuk membantu menjaga sendi agar sehat, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, membantu dalam pencernaan lemak dan penyerapan, sulfur juga dibutuhkan untuk membuat asam empedu, membantu mengatur gula darah, dan membantu menjaga keseimbangan oksigen untuk fungsi otak yang sehat. Namun sayangnya belum ada suplemen belerang (sulfur) tapi kita bisa memperolehnya dari kuning telur, kubis, brokoli, kembang kol, kubis Brussel, kangkung, sawi, asparagus, bawang merah, dan bawang putih. Insya Allah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita tanpa harus mengkonsumsi suplemen. oya tiket masuk ke sini 19 ribu per orang ditambah naik angkutan 5 ribu per orang untuk mencapai kawah.




Dalam perjalanan pulang dan pergi kami melewati perkebunan stroberry di daerah Ciwidey, namun tak sempat mampir karena waktu terbatas. Perjalanan berakhir di Cibaduyut, tempat sentra oleh-oleh dan tempat belanja sepatu atau sandal berbagai merk.
Alhamdulillah perjalanan yang banyak memberikan pelajaran berharga untuk dijadikan model pengembangan   wirausaha berbasis potensi lokal dan belajar berwirausaha serta menjadikan kita untuk selalu banyak bersyukur atas karunia yang Allah berikan kepada kita, berupa kekayaan alam dan keindahan alam. Seperti firman Allah berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.“ (QS. Al Baqoroh (2) : 172)

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba' (34) :15)

Rabu, 29 Mei 2013

Suci Sekeping Hati



Album : Kembara Cinta
Munsyid : Saujana
http://liriknasyid.com


Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa

Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pastikan hinggap

Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba

Rabu, 22 Mei 2013

Mari Belajar Menjadi Bijaksana


Dari kisah yang saya tuliskan kemarin, mari kita mengambil ibroh, kita sebagai sahabat atau sebagai murobbi hendaknya bertindak bijaksana, tidak kemudian menjust bahwa ada yang tidak beres pada mereka, bukankah cinta mencintai adalah fitrah, lalu kenapa itu terlarang? sepanjang cinta itu hadir bukan karena sahwat (Ketampanan, kekayaan, kedudukan, mengumbar perhatian: smsan, teleponan, chatingan yang tidak penting). Namun karena agamanya, akhlaknya, dan kecintaannya pada dakwah. Cinta seperti ini ada baiknya di apresiasi, kita bantu untuk menemukan solusinya, bukan malah mempersulitnya.

Kata Anis Matta dalam serial cintanya, kasihanilah orang-orang yang jatuh cinta, karena di hati siapapun cinta yang suci yang tulus seperti itu singgah, kita seharusnya mengasihi pemilik hati itu. Sebab itu perasaan yang luhur. Sebab perasaan yang luhur begitu adalah gejolak kemanusiaan yang direstui di sisi Allah. Karena direstui itulah Rosulullah yang merupakan teladan terbaik kita, menanggapi dengan sangat bijaksana dalam hal ini seperti dalam sabdanya: tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang saling mencintai kecuali pernikahan (HR. Ibnu Majah).        

Tentu kita masih ingat kisah Pernikahan Fatimah dan Ali, betapa bijaksananya Rosulullah saat dua sahabat terbaiknya nya: Abu Bakar dan Umar datang meminang Fatimah, namun beliau menolaknya dengan santun karena tidak ada jawaban yang menyetujui dari Fatimah. Tapi ketika Ali yang datang beliau menjawabnya dengan ahlan wa sahlan karena Fatimah telah mengiyakan, dan beliau faham ada cinta di hati Fatimah untuk Ali. Di sini dua jiwa telah bertemu, dan pertemuan itu adalah atas kehendak Allah.        

Kita lihat betapa banyak proses ta’aruf yang akhirnya gagal karena dua jiwa belum bertemu, dan ini juga atas kehendak Allah. Apakah kemudian kita akan memaksakan dua jiwa harus bertemu dengan alasan wilayah dakwah, rasanya terlalu berlebihan, siapa yang bisa menjamin menikah dalam satu wilayah dakwah akan menjamin keberlangsungan dakwah di tempat itu. Dan siapa pula yang mengatakan menikah beda wilayah tidak bisa melanjutkan dakwah. Justru bisa jadi itu adalah pelecut semangat yang semakin berkobar. Bukankah Allah telah berfirman “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al-Hujurat: 13).

Atau karena alasan masih banyak stok akhwat/ikhwan yang belum menikah, sehingga harus didahulukan dulu. Lalu, apakah yang sudah terpaut cinta tidak penting disegerakan? Dan bukankah tidak ada itshar dalam hal ibadah? Bukankah pula menolong dua jiwa yang sudah terpaut cinta lebih maslahat daripada menyatukan jiwa yang belum saling mengenal.

Mari Kita juga belajar dari kisah Qais dan Laila yang menyejarah. Kebanyakan kita hanya melihat dari sisi dua orang ini saja, betapa bodohnya mereka hingga menjadi gila sampai mati dalam keputusasaan, ya itu memang benar mereka terlalu berlebihan, tapi mari kita juga melihat sisi orang tua mereka yang tidak merestui karena alasan kedudukan. Bukankah Allah tidak melihat kedudukan? Tapi Dia melihat ketaqwaan hambanya. Bila orang tua mau bijaksana maka saya kira tidak ada cerita Qais dan Laila majnun.

Begitulah, kadang kita tidak sadar telah menjadi mata rantai dalam melakukan kezaliman pada diri mereka sendiri: bersedih berkepanjangan. Nah kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab?. Coba kita lihat hadist dari Jarir bin Abdullah ra., Rosulullah bersabda “Barangsiapa yang tidak mengasihi sesama manusia, maka Allah tidak akan mengasihinya.” ( HR. Bukhari dan Muslim).

Dan bisa jadi kondisinya lebih parah lagi, jika karena larangan yang tak berdasar itu mereka menjadi kecewa dan akhirnya menempuh jalan yang tidak di ridhai Allah misalnya berzina atau bunuh diri atau menikah dengan orang musrik/kafir, lalu siapa lagi yang bertanggung jawab? bukankah kita yang telah menjadi mata rantainya?

Maka bersikap bijaksana itu perlu, selama cinta itu hadir karena kesuciannya: cinta karena Allah. Karena cinta adalah energi yang tak pernah habis, betapa agungnya jika energi itu disalurkan ke tempat yang benar, insyaAllah ia akan melahirkan kekuatan dakwah yang menyejarah, seperti cinta Fatimah dan Ali.

Tulisan ini sebagai renungan bagi kita, siapapun kita, sahabat, murobbi, ataupun orangtua agar bisa lebih bijak dalam menanggapi hal semacam itu.

Wallahua’lam bish showab…

Selasa, 21 Mei 2013

Bila ada waktu menanti, pastikan Allah membersamai

Bismillaahirrohmaanirrohiiim…

Beberapa waktu lalu saya dicurhati oleh seorang sahabat, dengan linangan air mata ia bertutur “Ukhti…salahkah kita bila cinta bersemi di hati, lalu kita bermaksud mensucikannya dengan jalan menikah?”. Saya katakan “yah tak  ada yang salah, bila cinta itu berlandaskan iman, maksudnya cinta yang bukan karena kekayaannya, ketampanan, atau karena perhatiannya (smsan, telefonan, chatingan hal-hal yang tidak penting) tapi karena agamanya, karena ia mencintai dakwah ini”.

“Demi Allah ukh, kami tak pernah smsan, telefonan, ataupun chatingan, dan bukan pula karena dia tampan, menurutku ia sangat biasa, juga bukan karena kayanya karena aku tak pernah tau seperti apa keadaannya. Aku mengaguminya karena kesalihannya, dan ia sangat mencintai dakwah ini. Tapi kenapa seakan-akan mereka menganggap kami begitu rendah, menggangkap hal itu tak pantas karena menyalahi aturan. Kami tak boleh mengajukan proposal, alasannya mereka sudah punya data masing-masing wilayah untuk dita’arufkan, seakan-akan bila ta’aruf beda wilayah itu adalah terlarang dan itu tak boleh terjadi, bukankah Allah sudah berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al-Hujurat: 13). Lalu apakah mereka tidak membaca firman Allah ini? Air mata itu terus mengalir semakin deras di wajahnya. Ku peluk erat tubuhnya yang terguncang, ku biarkan ia meluapkan semua beban yang menghimpitnya. Entahlah, saya juga tak sanggup menahan genangan air di pelupuk mata, perlahan ia menganak sungai juga. Kami membisu dalam isakan tangis.

Setelah beberapa lama kami larut dalam emosi yang sama. Akhirnya ia mencoba memulai lagi pembicaraan, “ukhti kenapa anti ikut menangis?” Saya menghela nafas sebelum kemudian menjawab “hanya ingin menangis saja ukh, ikut merasakan apa yang anti rasakan”.

Sebenarnya saya merasa tak mampu menasehatinya, saya kelu, buntu namun saya ingin mencoba menjernihkan pikirannya dan membangkitkan harapannya. Saya bacakan ayat Al-Qur’an kepadanya “Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman” (QS. Ali Imron: 139)

Kembali saya menanggapi ceritanya, ukhti agar hati tenang berprasangka baik saja pada Allah, mungkin Allah hendak mengajarkanmu tentang kesabaran, mungkin Allah ingin mengajarkanmu tentang arti menghargai, mungkin saja Allah hendak menguji keseriusan kalian, mungkin Allah memberikan kesempatan pada kalian untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih mendekat kepada-Nya. Kalau memang ia jodohmu pasti Allah akan mempertemukan kalian pada waktu yang tepat nanti. Bersedih dan menangis boleh-boleh saja, karena ia adalah ekpresi jiwa yang sangat manusiawi, yah wajar-wajar saja, namun jangan sampai berlarut-larut apalagi berputus asa, berharap saja kepada Allah, bukankah Dia Maha Megabulkan Harapan.  

Kalau ini saatnya menanti maka cukuplah Allah sebagai penolong, seperti firman Allah “ Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqoroh: 153).

Kata Salim A Fillah sholat dan sabar adalah perpaduan dua mata air yang tak pernah kering dan bekal yang tak pernah habis. Mata air yang memperbaharui tenaga, dan bekal yang meransum hati, sehingga tali kesabaran semakin panjang dan tak mudah putus.

Rosulullah bersabda: “Sungguh mengagumkan keadaan seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik; Jika ia diberikan kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya; dan jika ia ditimpa kesusahan ia sabar, maka itu baik baginya. Dan hal demikian hanyalah bagi mukmin.” (HR Muslim).

Sebagai manusia yang begitu lemah, kita diperintahkan untuk terus berdo’a, jangan pernah berhenti berdo’a, karena do’a adalah senjata orang mukmin. Dan tuhanmu berfirman. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu”. (QS. Al-Mu’min: 60).

Saya juga tersentuh dengan status sahabat dumay beberapa waktu lalu: “Hidup memang bukan semata penungguan. Tapi, ia adalah sebuah rentang yang harus diberi makna. Seorang yang berjalan sambil memetik mawar dan melati, tentu berbeda dengan seseorang yang berjalan tanpa mengambil apapun. Maka, tunggulah saja apa yang seharusnya kau tunggu, tapi jangan berdiam diri tanpa arti” [Status Norma Keisya Avicenna, (12/11)].

Maka dalam rentang penantian itu manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya untuk terus memperbaiki diri, menambah ilmu, berbuat baik untuk orang lain, mendekat sedekat-dekatnya kepada-Nya. Jikalau akhirnya takdir Allah mempertemukan maka sukarialah yang akan diperoleh karena pribadi sudah menjadi lebih baik dan lebih matang.

Wahai seorang kekasih
Telah lama kau dirindui
Hidup sedih dalam kerinduan
Menangispun tak berairmata
Tapi terus tetap bersabar
karena ikatan janji
 (The Zikr)

Wallahu a’lam bish showab…
Baarokallahu fiikum…