Cari Blog Ini

Senin, 24 September 2012

TAHUKAH KITA?

Ketika ALLAH rindu pada hambanya, ALLAH akan mengirimkan sebuah hadiah istimewa melalui malaikat Jibril yang isinya adalah ujian…

Dalam hadist qudsi ALLAH berfirman:“Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana Aku ingin mendengar rintihannya.”(HR. Thabrani dari Abu Umamah).

Abu Said dan Abu Hurairah r.a.meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam bersabda:
“Seorang muslim yang ditimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya.”(H.R. Bukhari dan Muslim)

Ketika ALLAH AZZA WA JALLA Sayang kepada Hamba-Nya, ALLAH-pun mengirimkan surat sayang itu...baik melalui masalah yang datang lewat keresahan hati yang tiada berujung...sungguh itu bukan apa-apa, ALLAH AZZA WA JALLA hanya ingin kita datang, bersujud simpuh, berdoa kepada-Nya. Maka datanglah setiap saat Kepada-Nya, jangan menunggu surat sayang itu datang!!!..

Setiap kesalahan yang pernah kita perbuat adalah bagian dari proses pembentukan kepribadian...jangan terlalu menyesali semua kesalahan, tapi sesalilah jika semua itu tidak berdampak adanya perubahan kepribadian diri!!!

Mendung tidak di ciptakan hanya membuat langit gelap tetapi sebagai pembawa kabar gembira akan sejuknya air hujan yang akan turun...luka tidak hadir hanya membuat kita tersakiti namun supaya kita tersadar bahwa kita hanyalah manusia biasa. Genggam keyakinan wahai saudaraku, indahnya kehidupan bukan dari banyaknya kesenangan yang kita peroleh namun terletak dari kesyukuran kita akan segala Rahmat Yang Penyayang diantara Para Penyayang......keep istiqamah!

By: Strawberry

Sabtu, 22 September 2012

"Jejak Kerinduanku Bagian 2"


Seminggu pasca lebaran aku mengagendakan menghadiri walimahan sahabatku tercinta di sebuah kota yang sering ku lewati ketika pulang-pergi saat libur kuliah dulu. Tepatnya tanggal 25 agustus, aku pergi bersama seorang sahabat yang dulu kakak tingkatku dengan naik angkutan umum. Dalam perjalanan kami bercerita tentang masa indah yang pernah kami lalui ketika bersama di LDK dulu. Jalan yang berkelok-kelok membuat perutku terasa melilit seperti ingin mengeluarkan isinya, padahal tak ada yang bisa dikeluarkan, mungkin ini adalah efek tidak sarapan sebelum berangkat karena tak sempat.

Ku tahan rasa mual itu hingga tak kurasakan lagi, aku tertidur. Samar-samar kulihat di kanan dan kiri jalan tatakan permadani hijau bersusun bertingkat-tingkat yang dinamakan terasering. Di atasnya tumbuh sayur mayur, terbentang di bawah kaki langit nan biru, luas sejauh mata memandang. Sinar mentari memancarkan kehangatannya terus meninggi bersama sang waktu. Gundukan bukit yang berjajar indah menambah anggunnya daerah ini, bukit yang terkenal seantro nusantara bahkan di dunia sebagai paru-paru dunia “Bukit Barisan” yang membentang sepanjang pulau Sumatera.

Mobil terus melaju membelah jalan yang mulai ramai dilalui orang-orang yang mungkin pergi mengunjungi saudaranya atau sahabatnya yang masih dalam suasana Idul Fitri atau hanya sekedar jalan-jalan menikmati indahnya keasrian kota. Satu setengah jam perjalanan menghantarkan kami tiba di tempat acara  tepat pukul 10.30, akad sudah selesai, ada rasa menyesal tidak bisa menyaksikan ikrar suci itu. Orang-orang sudah ramai berdatangan, kami disambut hangat oleh sahabat-sahabat lamaku yang ikut menjadi panitia, cupika-cupiki bergantian kami lakukan.

Rasa haru menyelimuti hatiku, pernikahan ini memberikan keberkahan bagi kami, bagaimana tidak tanpa sengaja menjadi tempat reuni tak terencana para alumni LDK UNIB. Perjumpaan yang sebenarnya sudah ku rencanakan jauh hari sebelum kepulanganku, namun karena suatu kondisi kami belum sempat bertemu di Bengkulu, akhirnya kami bertemu di sini di kota Curup.

Alunan syahdu nasyid mengiringi kebersamaan kami, bercengkrama, saling bertanya kabar. Tak sadar, mataku tertuju kearah sahabatku yang sedang bersanding di hadapan kami, ku lihat ada rona kebahagiaan yang memancar diwajahnya. Dia sekarang sudah menggenapkan separuh agamanya bersama seorang pemuda sholih pilihan Allah. Barokallah sahabatku tercinta, Mila Pratiwi, “ Barokallahulaka wabaroka ‘alaika wa jama’ah bainakuma fi khoir” semoga menjadi keluarga “SAMARATA” sakinah, mawaddah wa rohmah wa taqwa. Aamiin…

Hari semakin siang, setelah sholat zhuhur berjamaah kami berfoto bersama sebagai kenangan untuk berpisah dalam waktu yang lama lagi. Kami saling berpelukan sebagai tanda perpisahan, lama membenamkan kepala pada masing-masing pundak diselipi do’a-do’a tulus yang kami ucapkan, suasana mengharu biru, sebiru langit yang membentang di atas kota Curup. Sahabat, entah kapan kita bertemu lagi, jika nafas ini masih ada harapanku Allah mempertemukan kita. Semoga ukhuwah kita akan terus tumbuh subur selamanya…

Ana uhibbuki fillah…

                                                                           Wisma Mahabbah,
                                                                     Cikarang, 8 September 2012

Ctt:                                                         
untuk sahabat-sahabat seperjuanganku di LDK UNIB
dan adik-adikku di MGC-FP UNIB.
Terus berjuang untuk hidup yang lebih bermakna… ^_^


                                                      Bukit hijau penanaman sayur
                                                   Jalanan menuju kota curup
                                                   Alumni Aktifis LDK UNIB
                                                   Barokallah sahabatku...    

"Jejak Kerinduanku Bagian 1"

Perjalanan selama satu jam Jakarta-Bengkulu terasa begitu lama bagi seorang yang sangat merindukan perjumpaan dengan sahabat-sahabat lama sepertiku. Ku lihat guratan pantai pasir putih yang begitu indah memanjang semakin lama semakin terlihat jelas dibawahku, pantai yang begitu asri dengan hamparan pepohonan cemara yang menghijau tempat kami dulu bermain-main pasir, bermain air atau bersepeda sekedar melepas penat saat jenuh menyapa ditengah padatnya aktivitas. Dalam hati aku berseru “sebentar lagi akan sampai Pantai Panjang sudah terlihat”, pantai yang terkenal terpanjang di Indonesia dengan garis pantai sekitar 7 km.


Saat menjejakkan kaki pertama di bumi Raflesia setelah dua tahun ku tinggalkan ada rasa bahagia memenuhi relung hatiku. Bahagia karena aku pernah disini menempa diri agar menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Ketika tiba aku segera menghubungi sahabatku tercinta yang pernah membersamaiku selama bertahun-tahun dalam sebuah halaqoh dia bernama Rani Asmara, ternyata dia sudah menungguku sejak dari tadi. Aku menunggu antrian pengambilan koper kesayangan, setelah beres barulah kami bertemu, pelukan harupun mengawali pertemuan kami.

Kami segera meluncur menuju kontrakannya yang tak jauh dari sana. Kontrakan yang cukup besar, ia tempati sendiri. Sebelumnya dia tinggal berdua bersama adik satu-satunya, sekarang adik tercintanya melanjutkan studi S2 di kota Bandung. Aku berseloroh dengan menggunakan bahasa Bengkulu “besak nian kontrakan iko dak ukh, eloknyo beduo” sahabatku menimpali “betigo lebih elok lagi ukh”  , kami tertawa dengan celotehan sendiri. Yah, mungkin sekedar ungkapan harapan yang sedang dinanti.

Malamnya kami banyak bercerita tentang masa lalu, juga tentang masa depan, ternyata ia juga sudah melanjutkan S2 di Universitas yang sama dengan S1nya UNIB, barokallah ya ukh, semoga dimudahkan semua urusannya.  Rasa kantuk bercampur lelah membuat kami akhirnya tertidur. Kami terbangun saat suara panggilan dari masjid mengingatkan untuk segera menunaikan sunnah sahur ramadhan. Hari itu sahabatku masih bekerja seperti kantor-kantor pemerintah yang lain, masih belum libur menjelang lebaran, sementara aku bersiap-siap mengunjungi sahabatku yang lain.

Ada rasa canggung ketika naik angkot menuju Kandang Limun Universitas Bengkulu, sudah cukup lama aku tinggalkan kota ini, kini aku kembali lagi sekedar untuk singgah melepas kerinduan. Kedatanganku di UNIB disambut rimbunan pepohonan nan hijau menyejukkan mata, suasana sepi, jarang sekali terlihat orang-orang melintas, aku baru tersadar ini adalah bulan agustus saat libur panjang kampus-kampus negeri, bertepatan dengan libur menjelang lebaran.

Aku segera menepi mencari sudut yang dulu pernah menjadi tempatku merenung. Tepat di pinggir danau di bawah rimbunan pepohonan aku duduk sambil memandang sekitar. Semilir angin menerpa wajahku, menggesekkan dedaunan  membunyikan alunan tentang kehidupan diiringi riak-riak air danau yang membentang dihadapanku menambah damainya suasana disiang itu. Andaikan saja aku datang lebih pagi, aku bisa mendengarkan kicauan burung yang hinggap di pepohonan dan terbang bebas kesana kemari seperti yang sering kami lakukan dulu ketika waktu kosong disela-sela kuliah atau praktikum sambil baca-baca buku atau ketika mentoring SQT (Studi Qur’an Terpadu) adik-adik baru, kegiatan yang setiap tahun menjadi agenda besar kami untuk mengentas buta huruf al-qur’an di tingkat perguruan tinggi. Setelah satu semester ada mentoring lanjutan yang dikhususkan lagi menjadi kelompok-kelompok baru.  Indahnya mengenang masa-masa itu, berharap apa yang ku lakukan dulu bermanfaat bagi orang lain.

Lama aku menikmati kesendirianku di tepi danau itu, menyelami masa lalu yang begitu bermakna dalam hidupku. Setelah puas aku segera menghubungi adik tingkatku yang sedang semester akhir disana, adik penerus perjuangan kami di LDF Pertanian yang bernama MGC (Moslem Generation Club). Sengaja aku tidak mengontaknya lebih dulu untuk “surprise”, beberapa saat aku mengunggu akhirnya dari arah belakang dikejauhan seseorang degan jilbab putih membalut wajahnya memakai gamis coklat melambai-lambaikan tangannya kearahku, dialah adikku tersayang Umi Salamah, yang dengan kesabarannya terus istiqomah dalam dakwah disaat yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Kami semakin dekat hingga akhirnya bertemu dalam pelukan hangat, sehangat jiwa kami selama bertahun-tahun tak bertemu.

Kami terduduk di hamparan rumput hijau di tepi danau itu melepas kerinduan, sambil bercerita perkembangan kampus dari mulai LDF, LDK, BEMF, BEMU, KAMMI, UKM P3 M, sampai HIMA “alhamdulillah sekarang semua kader yang pegang mbak” ungkapnya. Walaupun sebenarnya kami sering chatingan tapi tetap saja ingin mendengarkan ceritanya secara langsung supaya lebih memuaskan. Waktu mengalir begitu cepat melewati pucuk-pucuk pohon yang menjulang turun menyapa kami yang baru tersadar saat adzan ashar memanggil.

Tak ingin ketinggalan kamipun segera bergegas menuju masjid Kampus Darul Ulum (DU), melewati lorong-lorong rimbun nan asri, letaknya cukup jauh bila berjalan kaki karena berada di sudut kampus depan, dari rektorat tempat kami berada memakan waktu sekitar 15 menit. Waktu kuliah dulu kami sering melakukannya walau kadang terasa berat, hanya untuk menghadiri syuro LDK atau syuro KAMMI Tepi Barat UNIB atau acara lainnya. Sekarang kami cukup menempuhnya hanya 2 menit dengan sepeda motor. Tak ada yang berubah di masjid DU tempat best camp LDK UNIB, tetap memancarkan kesederhanaannya.

Waktu terus beranjak sore saat ada sebuah pesan masuk ”ayuk dimano kini? sayo ndak  ke UNIB, nyampe sekitar 15 menit lagi, kito ketemu di Lab. Agro ajo” sebuah pesan dari seorang adik tingkatku yang sedang pulang berlibur dari S2nya di kota Bogor. Seorang adik yang pernah mengingatkan aku untuk banyak tersenyum dengan setiap orang, namanya Helfi Saputra. Kami segera meluncur ke Lab. Agro (Laboratorium Agronomi) tempat kami melakukan berbagai percobaan dulu ketika kuliah. Suasana jalan-jalan kampus sepi karena hari sudah semakin sore. Akhirnya kami bertiga bertemu dan bercerita berbagai hal sambil melihat-lihat suasana sekitar Lab.

Ada yang menarik di sana yang baru ada sekarang “Rumah Anggrek” tapi sayang kami tidak bisa masuk, hanya melihat dari luar saja karena pintunya terkunci dan petugasnya sudah pulang. Aku sangat menyukai tanaman, bagiku tanaman adalah sumber kehidupan. Dia memberikan kehidupan bagi mahluk hidup lain dengan kemampuannya membuat makanan sendiri (Autotrof).

Sungguh mulia jika kita mengambil pelajaran dari tanaman, kita mestinya mampu memberikan manfaat bagi orang lain apapun kondisi kita, seperti sebuah ungkapan yang pernah ku tulis beberapa waktu lalu  ” Bila tak mampu menjadi pohon yang besar dan rindang, jadilah saja perdu yang mengokohkankan dan meramaikan, bila tak mampu menjadi perdu yang mengokohkan dan meramaikan, jadilah saja rumput yang menghijaukan permadani, bila tak mampu menjadi rumput yang menghijaukan permadani, jadilah saja lumut yang menyuburkan tanah gersang dan tandus, bila tak mampu menjadi garuda yang kuat terbang kemana pun, jadilah saja walet yang membuat sarangnya bermanfaat, bila tak mampu menjadi hujan yang membasahi bumi, jadilah saja embun yang meneteskan kesejukan dipagi hari. Menjadi apapun dirimu, jadilah yang bermanfaat bagi orang lain sesuai kemampuanmu...”
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" [HR. Thabrani dalam Al-Ausath].

Hari menjelang maghrib saat kami perlahan meninggalkan kampus, waktunya berbuka, kami segera mencari tempat untuk sekedar memenuhi hak jasad, alhamdulillah puasa yang ke 26 terlewati. Hari itu dilalui dengan sangat indah, sayangnya aku tak sempat bertemu dengan adik-adikku tercinta lainnya, ada sebagian mereka yang sudah mudik lebaran, mungkin kita belum diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu kembali, mudah-mudahan suatu hari nanti kita dipertemukan kembali adik-adikku. Aku sudah cukup terharu dan bahagia mendengar kabar baik MGC semakin gemilang dan banyak mengukir prestasi dari kader-kadernya, semoga Allah memberkahi kalian dan penerus-penerusnya nanti. aamiin.

                                                                              Wisma Mahabbah,
                                                                    Cikarang, 7 September 2012



Ctt:
Untuk sahabat-sahabat seperjuanganku di LDK UNIB
dan adik-adikku di MGC-FP UNIB.
Terus berjuang untuk hidup yang lebih bermakna… ^_^

-          Besak nian : besar sekali
-          Iko : ini
-          Elok : baik; bagus
-          Ayuk : kakak perempuan
-          Sayo : saya
-          Ndak : akan; mau
Pantai Panjang Bengkulu

                                                               Jalanan kampus UNIB
                                                                   Danau UNIB
                                                                   Hutan danau
                                                                   Rektorat UNIB
                                                            Suasana siang pinggiran danau
                                                                 Danau GKB 1
                                                                  Cemara Angin           

Selasa, 18 September 2012

“Bertemu karena Allah, berpisahpun karena Allah”


Sahabatku,

Sungguh indah saat pertemuan dengan wajah-wajah baru, seakan ada cahaya kebahagiaan memancar disana. Ketika pertama bertemu dengan remaja-remaja pakaian putih abu-abu hati rasa bahagia, sumringah bertemu dengan teman-teman baru suasana baru tempat baru hingga merajut ukhuwah bertahun-tahun lamanya. Tiga tahun susah payah merajutnya akhirnya berpisah jua, ada bahagia saat itu, yah bahagia karena akhirnya perjuangan selama tiga tahun dibayar dengan sepucuk surat cinta (dinyatakan lulus) tak terbendung kebahagiaan saat itu, namun aneh beberapa saat kemudian bercucuran air mata semua perpelukan suasana mengharu biru, tanpa diminta perpisahahanpun terjadi, ada sedih, duka, lara disana bercampur aduk.

Roda kehidupanpun terus berputar, kembali memasuki dunia baru dunia kampus, yang sangat asing bagiku, ku berharap bertemu dengan orang-orang terkasih, dan benar Allah mempertemukanku dengan orang-orang terbaik, merajut ukhuwah, merajut asa, merajut dakwah  dengan cinta kasih. Seakan tak ingin lagi berpisah hari-hari dilalui dengan begitu indah, hampir lupa jika punya tanggungjawab kepada orang tua untuk segera menyelesaikan study. Mau ataupun tidak keluar kampus adalah keharusan untuk menyongsong kehidupan yang lebih kompleks. Perasaan juga campur aduk saat itu, bahagia karena telah menyelesaikan tanggung jawab dan menggapai separuh cita-cita, namun ada juga rasa nyeri yang menyesakkan dada karena perpisahan tak bisa dielakkan.  Selalu saja ketika ukhuwah sudah semakin mendalam, berpisah kembali hadir memecahkan keindahan.

Pasca kampus hadapan baru dunia nyata membentang di depan mata, memasuki dunia kerja kembali dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa menginspirasi, mendedikasikan ilmunya untuk orang lain, untuk bangsa ini, untuk kebangkitan islam. Kembali merajut ukhuwah untuk saling melengkapi, saling menguatkan, saling nasihat dan menasehati, saling berbagi ilmu. Begitu indah dan sempurnanya hidup ini menjalani hari-hari bersama orang-orang sholih. Namun lagi dan lagi setelah pertemuan selalu saja ada perpisahan disaat ukhuwah sedang mekar, ranum dan mewangi.  

Sahabatku,

Ingin rasanya berkata aku tak ingin lagi ada perpisahan, aku lelah merajut ukhuwah, aku lelah berpisah…namun tak ada gunanya, semua telah terjadi, semua telah berlalu, bertemu dan berpisah itu adalah sebuah keniscayaan tak ada yang abadi di dunia ini. Bertemu karena Allah berpisahpun karena Allah.
Jika ada yang bilang seperti lirik lagu “bukan perpisahan yang ku tangisi namun pertemuan yang ku sesali” tapi tidak bagi ku, aku tidak pernah menyesal bertemu dengan kalian sahabatku, justru aku sangat bersyukur Allah telah mempertemukan aku dengan kalian, aku banyak belajar dari kalian, belajar saling mencintai, belajar saling memahami, belajar arti sebuah persahabatan, belajar dan terus belajar.


Sahabatku,

Semua tak akan pernah berakhir, ukhuwah yang pernah kita rajut bersama akan tersambung kembali jika tidak di dunia ini mudah-mudahan di negeri abadi nanti “negeri akhirat”. Rosulullah SAW bersabda : “Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain-Nya diantaranya:  Dua orang yang saling mencintai karena Allah ; berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah (HR. Al-Bukhari). “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Teruslah menjadi yang lebih baik, teruslah berdoa untuk pertemuan abadi kelak.

Sahabatku,

Syukron telah mengajariku bagaimana cara saling mencintai, syukron telah mengajariku bagaimana cara saling memahami, syukron telah mengajariku memahami arti persahabatan, syukron telah mewarnai hidupku…jazakumullah khoir…semoga Allah mempertemukan kita kembali di dunia ini dan di akhirat nanti…aamiin…

                                                         “Untukmu Teman”

Di sini kita pernah bertemu…
mencari warna seindah pelangi
ketika kau mengulurkan tangan mu
membawaku ke daerah yang baru 
dan hidupku kini ceria 
kini dengarkanlah 
indahnya lagu tanda ingatanku kepadamu teman…
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu…
kenangan bersama takkan ku lupa 
walau badai datang melanda 
walau bercerai jasad dan nyawa...
mengapa kita ditemukan dan akhirnnya kita dipisahkan...
mungkinkah menguji kesetiaan... 
kujujuran dan kemanisan iman...
Tuhan berikan daku kekuatan…
kini dengarkanlah indahnya lagu 
tanda ingatanku kepadamu teman…
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu…
mungkinkah kita terlupa 
Tuhan ada janji-Nya 
bertemu dan berpisah adalah rahmat dan kasih-Nya...
andai ini ujian terangilah berikan kesabaran…
pergilah gulita hadirlah cahaya…
kini dengarkanlah indahnya lagu
tanda ingatanku kepadamu teman…
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu…
untuk selamanya…..

By: Brothers


                                                                                           Wisma Mahabbah : 03.00
                                                                                      Cikarang Indonesia, 12 Juli 2012