Cari Blog Ini

Jumat, 18 Januari 2013

Untukku dan Untukmu Sahabat

Bissmillaahirrohmaanirrohiiim…


Rasanya tak habis fikir, mengapa dunia ini begitu kejam, melindas etika, cara berfikir, bahkan perasaan. Namun begitu dangkal jika kita berfikir demikian. Sebenarnya bukan dunia yang kejam tapi kita yang membuatnya kejam. Beberapa hari ini hatiku sedih setelah memantau perkembangan beberapa sahabatku di situs FB, banyak yang berubah dari mereka tidak seperti dulu lagi, bahkan sangat jauh berbeda.

Dulu waktu di kampus sosok-sosok itu begitu anggun, bersahaja, menutup aurat dengan sempurna, menjaga tutur bahasa, menjaga pandangan, aktif membina dan lain sebagainya hingga membuatku slalu ingin bersama mereka, rasanya damai sekali hati ini bersama mereka. Setelah keluar kampus menjadi berubah drastis, kemanakah pesona yang anggun itu? kemanakah sikap yang penuh sahaja itu? kemana hilangnya komitmen dulu? tidakkah membekas sedikitpun dihati?. Terpaan dunia yang fana ini sungguh sangat melenakan, kita dengan banyak alasan karena tuntutan pekerjaan, lingkungan yang kurang mendukung, sampai orang tua yang beranggapan susah dapat jodohnya membuat kita goyah.

Entahlah…aku tak tau persis alasan mereka, namun yang jelas mereka secara sadar memilih jalannya. Kita memang dibebaskan oleh Allah untuk memilih dua jalan Fujuroha wa taqwaha, tergantung kita mau memilih yang mana, tidak ada paksaan. Ketika kita memilih jalan ketaqwaan sungguh luar biasa ada banyak firman Allah yang menjelaskan tentang balasan orang-orang yang bertaqwa.

 "Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa" (QS. Al-Qamar: 54-55)

"Sungguh, mereka yag beriman dan mengerjakan kebajikan, kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu. Mereka itulah yang memperoleh Surga 'Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (dalam surga itu)mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau  dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang undah. (itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah". (QS Al-Kahf: 30-31)



Ada juga pepatah bijak yang perlu kita renungi ”sesungguhnya untuk mencapai puncak itu sangatlah sulit, namun bertahan tetap di puncak itu lebih sulit” maka sebenarnya bila kita ingin sedikit menghargai proses yang kita lalui akan sangat membantu kita untuk tetap bertahan dalam keistiqomahan. Miris rasanya, tapi itulah kenyataan hari ini. Kita tidak bisa berbuat banyak atas pilihan sahabat-sahabat kita, namun kita masih bisa berdo’a untuk kebaikan mereka. Semoga pintu hidayah itu selalu terbuka lebar, sehingga mereka bisa kembali ke jalan ini. Aamiin…

Ada beberapa tips untuk kita agar tetap dalam keistiqomahan sampai detik akhir kehidupan ini, diantaranya:
  1. Memahami hakikat diri kita diciptakan, bila kita faham hakikat ini apapun kondisinya kita akan tetap kuat dan terjaga.
  2. Teruslah berdo’a kepada Allah untuk ketetapan hati dalam keistiqomahan, karena Allah yang menggenggam hati hamba-hambanya.
  3. Berkumpullah dengan orang-orang sholih, agar kita mempunyai kecenderungan untuk selalu memperbaiki diri.
  4. Berkomitmen dengan kuat pada diri sendiri, jangan berikan kesempatan pada diri untuk berubah menjadi lebih buruk. Karena kita tidak pernah tau sampai kapankah nafas ini akan berhenti, bukankah sungguh sangat merugi bila diakhir kehidupan, diri dalam keburukan.

Semoga  beberapa hal di atas dapat kita fahami dan terapkan sehingga bisa membentengi diri kita.

Wahai diri tetaplah istiqomah di jalan ini…
Wahai hati tetaplah teguh di jalan ini…
Wahai jiwa tetaplah tegar di jalan ini…
Karena jalan ini sungguh panjang dan melelahkan…
Jalan ini penuh onak dan duri…
Jalan ini ada badai dan petir yang siap menghantam…
Tapi jalan ini adalah kebersamaan dengan Robbmu…
Tersenyumlah ^_^

Wallahu a’lam bish showab…
Barokallahu fiikum…

Rabu, 28 November 2012

Ketika Diri ini Membangun Cinta



Membahas mengenai kata CINTA memang tidak akan ada habisnya. Seperti yang dituliskan Anis Matta dalam bukunya ‘Serial Cinta’, Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat. Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar. Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta.

Inilah rangkaian peristiwa yang membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling). Bahkan tayangan tentang cinta di Indonesia hampir ada di setiap bahasan media cetak dan elektronik dari mulai iklan, sinetron sampai layar lebar. Pagi sampai pagi lagi tayangan sinetron di televisi Indonesia hampir semuanya membicarakan tentang cinta. Ceritanya tak akan ada habisnya. Hingga tak hayal ketika sikap dan perilaku anak-anak dan remaja tidak jauh dari yang digambarkan dalam acara televisi tersebut. Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang membuat badan, jiwa dan pikiran ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh memindahkan gunung pun rasanya bisa. Disuruh mengecat langit pun mampu. Tak ada yang tak mungkin. Tak ada yang mustahil. Itulah cinta.

Tengoklah bukti cinta itu dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, dua orang yang gagah berani dan memiliki tekad kuat untuk mendeklarasikan proklamasi, kalau saja tanpa cinta, Bunga Karno dan Bung Hatta terhadap bangsa, negara dan agama, mungkin Indonesia tidak akan seperti sekarang. Belum lagi Jenderal Soedirman yang dengan badannya sakit-sakitan ketika memimpin pasukan dalam perlawanan melawan Belanda, kalau tanpa diiringi modal cinta yang mengagumkan. Seorang Ibu yang merelakan setiap jerih payahnya untuk membahagiakan cinta bersama suami dan anaknya sekalipun hati seorang Ibu sedang sakit tetapi tetap tulus menampakkan kecintaan itu kepada suami dan anak-anaknya. Itulah cinta yang maha dahsyat yang merubah keadaan menjadi lebih indah dengan adanya kekuatan spiritual.

Sebagai umat muslim selayaknya sudah tahu seseorang yang menjadi dambaan Allah ta’ala yaitu Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang dengan kecintaan Allah kepada kekasihnya itu rela membimbingnya setiap saat untuk menjunjung sebuah perubahan besar di dunia. Begitu pun Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam, dengan kecintaannya yang amat besar kepada umatnya hingga akhir hayatnya pun mengatakan, “ummatii, ummatii, ummatti…” yang dibisikkan ke telinga Ali.

Hadits Rasulullah yang inspiratif dan mendalam tentang cinta. Dari Anas RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Ada tiga perkara barangsiapa tiga hal itu ada pada dirinya, maka ia menjumpai manisnya iman, yaitu jika Allah dan RasulNya lebih dicintainya ketimbang selain keduanya, dan jika cinta kepada seseorang, dimana tidak mencintainya kecuali karena Allah dan jika benci kembali kepada kekafiran sebagaimana benci apabila dilempar ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhary Juz I Bab Halawatul Iman).

Beliau sudah jauh-jauh hari memberikan makna cinta yang ada dalam diri manusia dengan hanya ditujukan kepada Allah ta’ala. Sejatinya cinta bukan saja hanya berkutat dengan permasalahan duniawi saja melainkan cinta yang sesungguhnya bagaimana ia menghubungkan hati dengan sang Khaliq. Kalau saja seseorang rela berbuat apapun dengan tidak mengindahkan segala macam rintangan dan bersikap baik terhadap orang yang dicintainya, seharusnya cinta yang maha dahsyat itu juga bisa diwujudkan ketika kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah. Ketika kecintaan dan keimanan itu beriringan, maka jangan heran keindahan cinta akan menjadikan hidup ini begitu mulia. Hidup yang dijalankan menjadi merendah kepada Allah ta’ala dengan cara menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganNya. Selalu bangun, bersimpuh di 1/3 malam yang akhir. Semua itu berakar karena cinta dan diliputi kerinduan yang sangat, sehingga berulang dan mendalam. Apalagi jika sudah benar–benar jatuh cinta. Jika kematian pun datang maka yang dirasa adalah bahagia dengan penuh kesyukuran dan kepasrahan yang mendalam karena akan bertemu Sang Kekasih yang Maha Mengasihi; Allah ta’ala.

Perlu perjuangan tersendiri untuk memahatkan kata cinta dalam hati kepada sang Khaliq. Perjuangan itu harus dimulai dan diniatkan, bukan saja menjadi angan-angan belaka yang menjadi derai pikiran kita setiap waktu. Marilah, mulai sekarang sadarilah bahwa jatuh cinta bukan sekedar masalah perasaan saja, temukan dan bangunlah jatuh cinta sebagai kekuatan spiritual. Jatuh cinta bisa digunakan sebagai sarana bagi orang yang berjalan menekuni lorong–lorong keimanannya untuk menemukan manisnya iman. Sehingga tidak ada satu kata pun yang mewakili untuk menggambarkan rasa cinta yang telah kita bangun hanya kepada Allah ta’ala. Dari Zaid bin Tsabit RA, dia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang menjadikan dunia sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya dan Allah akan cerai–beraikan kebutuhannya. Dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, Allah akan mencukupi kebutuhannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR. Ibnu Majah)

Oleh karenanya, mari kita bangun cinta. Seperti kecintaan kita kepada seseorang, dimana semua unsur badan dan jiwa begitu dahsyatnya dalam menuangkan rasa cinta itu tanpa memikirkan segala macam tantangan yang ada, demikian juga kita tunjukkan dengan jatuh cinta kepada Allah dan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang berbuah keimanan seperti yang Allah ta’ala janjikan. Berangkat dari sini kemudian Allah ta’ala mengangkat pribadi kita setinggi-tingginya ke rangkaian realita yang nantinya disebut Luar Biasa. Ya, itulah cinta, Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan, mengagumkan dan menakjubkan. Sudahkah kita bangun cinta secara benar dan ikhlas, setelah kita mendambakan diri ini termasuk orang-orang beriman?  Jika belum, mari kembangkan diri lebih baik lagi, bukan target dan pencapaian–pencapaian tahunan yang kita cari, tetapi kematangan diri dalam persiapan kembali ke surgawi. Dan jalan–jalan cinta sudah menunggu, dengan sabarnya mereka menanti, kapan kita jatuh cinta di jalan Allah dan RasulNya ini.

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan

di kala malam begitu pekat

dan mata sebaiknya dipejam saja

cintamu masih lincah melesat

jauh melampaui ruang dan masa

kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu disengaja malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu

melanjutkan mimpi indah yang belum selesai

dengan cita yang besar, tinggi, dan bening

dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja

dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali

dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati


teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang

menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman

walau duri merantaskan kaki,

walau kerikil mencacah telapak

sampai engkau lelah, sampai engkau payah

sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang
(Salim A. Fillah)


Search: www.dakwatuna.com

Kamis, 01 November 2012

Samudera Cinta



Ya Robbi…syukurku pada-Mu atas karunia yang telah Engkau berikan pada hamba yang lemah dan tiada berdaya ini. Mungkin syukurku ini tiada bandingannya dengan begitu banyak  nikmat yang Engau berikan hingga Engkau berfirman “Katakanlah (Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Al-Kahfi:109). Maka tak pantas bagiku menyesali diri apalagi berputus asa.

Tidaklah sia-sia semua skenario yang telah Engkau rancang dengan indahnya. Aku hanyalah manusia lemah yang tak kuasa mengatur hatiku sendiri, Engkau Yang Maha membolak-balikkan hati ini, Engkau yang mengengamnya, maka hamba memohon berilah kekuatan dan keteguhan padanya.

Jika rasa itu ujian bagiku, aku rela membersamainya, aku rela memberikan tempat yang seluas-luasnya di hatiku, biarlah ia terus tumbuh subur dan berbunga di taman-taman hatiku walau pada akhirnya ia akan gugur sebelum berkembang. Aku masih bisa memetik manfaat darinya untuk menjadi humus yang akan menumbuh suburkan tanaman baru nantinya, biarlah saat ini aku merasakan keringnya taman-taman hatiku, biarlah saat ini aku merasakan pahitnya kesabaran. Karena ku yakin di ujung jalan ini aku akan menemukan oase yang menghilangkan rasa dahaga yang teramat sangat, dan aku juga akan menemukan  manis dan lezatnya buah kesabaran. Ya Robbi aku bersyukur Engkau telah anugerahkan rasa itu hingga ku banyak belajar tentang arti kesabaran, arti ketulusan, arti keikhlasan, arti memahami, arti menghargai.

Rasa itu telah merubah segalanya, biarlah ia meluas seluas samudera cinta-Mu, ada badai, pasang surut, batu karang, terik mentari dan hujan di sana, tapi aku tau jauh di dasar sana ada taman yang begitu indah serta mutiara yang tersimpan rapi yang telah Engkau siapkan untuk orang yang mencintai karena-Mu.

Ya Robbi, rasa itu dari-Mu, sekarang hamba kembalikan semuanya kepada-Mu karena ia adalah milik-Mu. Berilah kekuatan pada hati hamba-Mu yang rapuh ini. Biarlah ia menjadi samudera cintaku agar aku banyak belajar darinya. Jika dia memang Engkau siapkan untukku, pasti Engkau akan mempertemukan pada saatnya nanti, namun jika dia bukan untukku, damaikanlah hatiku dengan segala ketentuan-Mu.



Wisma Mahabbah,
12 Oktober 2012

Rabu, 17 Oktober 2012

Yakinlah, Allah Akan Menolong Meskipun Kau Tak Terlalu Yakin

dakwatuna.com - Ketika kesulitan terasa datang bertubi dan kemudahan yang dinanti tak jua datang menghampiri. Segala daya dan upaya maksimal dirasa telah ditumpah-ruahkan. Di tengah pergulatan masalah yang merasuki pikir, tanpa disadari air mata sering kali jatuh membasahi pipi, membasuh hati. Dalam kondisi ini, kita mulai kepayahan menstabilkan semangat agar tetap melingkupi hati. Mungkin sebagian besar di antara kita akan berkata “La tahzan, innalloh ma’iy…” sebagai kalimat pembesar hati. Kita berkali-kali bermonolog ria agar yakin (akan datangnya kemudahan) terus bersemayam dalam jiwa. Tak jarang surat Al-Insyirah melantun syahdu di langit hati, “Inna ma’al ‘usri yusro” sebagai penghibur jiwa. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Atau yang lebih simple dan sederhana dari kalimat itu semua, kau mungkin akan seringkali berkata “Bisa!” sebagai kata memotivasi.

Tapi, mengapa semakin kita terus menegaskan pada jiwa agar yakin akan pertolonganNya, seolah terlihat semakin menampakkan betapa tipisnya rasa yakin yang kita punya. Jujurlah, ketika lisanmu mengatakan yakin, apakah kabut tipis keraguan masih mengusik di selasar hati? Jika jawabmu adalah “Ya”, maka itu namanya kau belum benar-benar yakin, haqqul yakin. Hingga wajar saja jika masih hadirlah resah, mewujudlah gelisah atas masalah yang datang menyapa dan kebutuhan penegasan keyakinan menjadi hal yang tak terelakan lagi.

Namun, bukan berarti penegasan yang kau upayakan pada jiwa agar yakin akan kemudahan dari-Nya bernilai salah. Tidak sama sekali. Fase ini pasti akan ditempuh oleh siapa saja yang pernah dirundung masalah. Oleh siapa saja yang menaruh harap pada-Nya.

Rasulullah yang mulia pun senantiasa berharap dan mempertegas yakinnya. Banyak kisah Rasul yang dapat dijadikan teladan dalam hal ini, salah satunya adalah kisah tentang proses sebelum perang Khandaq membara. Dengan berbagai pertimbangan yang matang melalui proses musyawarah, maka bertahan di Madinah dan penggalian parit di sekeliling Madinah adalah siasat perang yang hendak mereka mainkan. Salman Al-Farisi adalah dalang dibalik ide penggalian parit ini.

Mungkin kita berfikir ini tidaklah sulit, hanya menggali parit. Apalagi daerah Madinah seringkali dikatakan sebagai lahan berpasir yang tentunya menurut logika akan mudah untuk digali. Jangan keliru saudaraku, lahan atau tanah mereka bukanlah pasir layaknya pasir di permukaan pantai yang terdapat di negara kita. Tanah mereka juga mengandung bongkahan batu besar dan sukar dihancurkan. Tambahan lagi, kala itu sedang terjadi krisis pangan dan musim dingin.

Seluruh muslimin bersatu padu bergerak bersama untuk menyelesaikan parit ini, hingga sampailah mereka pada sebongkah batu besar yang sangat sulit dihancurkan. Para sahabat melaporkan perihal ini kepada Rasul. Lalu Rasul mengambil kampak dan mendekati batu besar itu. Dengan menyebut nama Allah, Rasul pun memukul dan memecahkan batu besar itu. Setelah itu, beliau berkata “Allah Mahabesar, sungguh aku telah diberikan kunci-kunci gerbang negeri Syam, Demi Allah aku melihat istana merahnya sekarang”. Kemudian untuk kali kedua, Rasul kembali memukul dan memecahkan batu besar itu lagi dan berkata “Allah Mahabesar, sungguh aku telah diberikan Parsi, demi Allah, sungguh aku melihat istana putih al-Madain sekarang”. Kemudian Rasul menyebut nama Allah lalu memecahkan batu besar lainnya dan berkata “Allah Mahabesar, sungguh aku telah diberikan kunci-kunci Yaman, demi Allah, aku melihat gerbang Shan’a dari tempatku ini”.

Subhanallah. Menurut penulis, kisah ini adalah cerminan cantik dari serangkaian kalimat penyemangat pembesar jiwa, agar pengharapan dan keyakinan akan kejayaan Islam terus tertanam dan tertancap dalam di sanubari segenap kaum muslimin ketika itu. Tentunya kalimat penyemangat ini bukanlah sekadar obral janji, karena apa yang Rasul katakan mendapat tuntunan langsung dari-Nya. Dan semua yang Rasul katakan ini terbukti.

Tentunya pengharapan Rasul bukan karena ia tak yakin dan pertegasan keyakinannya bukan karena ia tak percaya. Kisah ini membuktikan bahwa Rasul juga manusia yang tentunya memiliki segenap “rasa manusia” yang mendapat petunjuk langsung dariNya.

Ya… Sikap optimisme dengan kalimat penggugah semangat, pembesar jiwa, akan memunculkan rasa harap yang kemudian menuntun kita untuk mempertegas rasa yakin. Agar keyakinan ini benar-benar tertancap dalam di sanubari… Agar kemudian Allah berkenan menolong…
Yakinlah, Allah akan menolong kita, bahkan meskipun kita masih dalam kondisi berupaya memperkuat dan mempertegas rasa yakin…

Apapun keadaan kita tetaplah yakin Allah akan menolong kita, do'a+ikhtiar+optimis = pertolongan Allah
keep spirit... ^_^

Selasa, 09 Oktober 2012

BUKTI KEBENARAN AL-QURAN : SUNGAI DI DASAR LAUT

Subhanallah, Inilah Mukjizat Al-quran Tentang Sungai di Dasar Laut.

Suatu hari, seorang ahli kelautan bernama Jacques Yves Costeau melakukan penelitian di dasar laut untuk Discovery Channel. Ia menelurusi fenomena bawah laut di Cenota Angelita, Mexico.

Saat melakukan penyelaman, ia dikejutkan dengan sebuah fenomena alam yang luar biasa. Dia menemukan air tawar di antara air laut yang asin. Penemuan itu membuatnya takjub. Bagaimana mungkin air tawar bisa berada terpisah dalam air laut yang asin? Tetapi itulah kenyataan yang dia temukan di dalam laut.

Rasa ingin tahunya yang besar membuat Costeau kembali menyelam lebih dalam lagi. Ia menyaksikan fenomena alam yang lebih mengejutkan lagi. Betapa tidak. Ia melihat ada sungai di dasar lautan.

Sungai di bawah laut itu ditumbuhi daun-daunan dan pohon. Para peneliti menyebut fenomena itu sebagai lapisan Hidrogen Sulfida. Tapi tampak seperti sungai? Yang menjadi tanda tanya para ahli, mengapa air yang mengalir di sungai bawah laut itu rasanya tawar?

Sesungguhnya, sekitar 14 abad lalu, Al-quran telah menjelaskan fenomena itu. Simak saja surah Al-Furqan [25] ayat 53: ''Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia Jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.''

Fenomena unik dan aneh itu juga telah disebutkan dalam surah Ar-Rahman [55] ayat 19-21: ''Dia membiarkan dua laut mengalir yang kemudian keduanya bertemu, di antara kedua ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?".
 
 
search : www.republika.co.id

 
 

Rabu, 03 Oktober 2012

KETIKA TANGAN ALLAH TERLIBAT

Sahabat, seringkali kecerdasan dan kepiawaian kita membuat kita merasa tidak perlu lagi ‘Tangan Allah SWT’ karena segala bentuk masalah mampu kita selesaikan dengan cemerlang karena kecerdasan dan pengalaman panjang hidup kita ditambah lagi banyaknya ajaran-ajaran Rasionalis baru yang seolah-olah selalu terbukti secara empirik tanpa campur tangan Allah SWT.
Masih ingatkah kita tentang sebuah kisah, ketika 3 orang terkurung dalam sebuah Gua karena sebuah batu besar menggelinding menutupi mulut Gua? mereka bertiga dengan seluruh tenaganya tidak mampu menggeser sedikitpun batu itu.

Kisah itu adalah sebuah analogi tentang kehidupan kita, Gua adalah tempat bernaung untuk dapat bertahan hidup sedangkan Batu Besar itu adalah masalah yang membuat kenyamanan hidup kita menjadi terganggu, Gua zaman ini bisa menjelma dalam bentuk Perusahaan tempat kita berkarya, atau Jabatan tempat kita mengabdi dan melayani, atau keluarga tempat kita berbagi kasih sayang atau Lembaga tempat kita mengaktualisasikan diri kita dan seterusnya. Sedangkan Batu Besar bisa menjelma dalam bentuk masalah yang sangat rumit yang tak mampu kita sendiri menyelesaikannya sekalipun orang lain sudah membantunya.

Nah bagaimanakah cara mengatasi? inilah kisah selengkapnya……..................

Ada tiga orang pengembara yang sedang melakukan perjalanan bersama. Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Mereka bergegas mencari tempat untuk berlindung. Kebetulan mereka melewati sebuah gua. Tanpa pikir panjang, mereka langsung memasuki gua tersebut. Namun, derasnya hujan ternyata menggulirkan sebongkah batu besar yang kemudian menutupi mulut gua. Ketiga pengembara terperangkap di dalamnya!

Kendati sudah berusaha sekuat tenaga, ketiga pengembara itu tetap tidak mampu menggeser batu besar itu.
                “duh tamat sudah riwayat kita, terkurung di gua ini,” keluh salah satu pengembara.
                “Entah apa lagi yang bisa kita lakukan agar keluar dari sini,” kata pengembara yang lain, tak kalah putus asa dengan pengembara pertama.
                “Hanya Allah Swt. yang bisa menyelamatkan kita, kawan. Marilah kita berdoa kepada Allah dengan perantara amal perbuatan yang pernah kita lakukan dengan hati yang ikhlas. Semoga Allah Swt. berkenan memberikan pertolongan-Nya,” kata pengembara ketiga.

Mereka kemudian langsung bersuci dan memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh. “Ya Allah Yang Maha Mengetahui, hamba dulu pernah memiliki seorang pekerja yang hamba upah dengan tiga gantang padi. Ketika pekerjaku itu pergi tanpa mengambil upahnya, aku menyemai padi-padi itu hingga membuahkan hasil. Hasilnya, aku belikan seekor sapi yang kemudian beranak pinak hingga tak terhitung olehku jumlah sapi yang terus berkembangbiak itu. Ketika kemudian pekerja itu datang dan menagih upahnya, aku menyuruhnya mengambil semua sapi itu. Awalnya, dia menolak karena merasa upahnya hanyalah tiga gantang padi. Namun, aku bersikeras karena sapi-sapi itu berasal dari tiga gantang berasnya. Ya Allah, apa yang kulakukan hanya karena aku ingin mendapatkan Ridho-MU, ya Allah jika ada setitik keikhlasan dari apa yang aku lakukan itu, tolong ya Allah keluarkan kami dari gua ini,” doa pengembara yang bijak.

Keajaiban terjadi, batu besar itu bergeser sedikit. Lalu, pengembara berikutnya berdoa, “Ya Allah Yang Maha Tahu, setiap malam aku membawakan susu kambing yang kuperah sendiri untuk orangtuaku. Namun, pada suatu malam aku terlambat memerah kambing dan orangtuaku sudah tertidur saat aku tiba dikamar mereka. Walaupun saat itu anak dan istriku menangis kelaparan, tetapi aku tidak mau mereka meminum susu kambing yang kuperah sebelum orangtuaku mengizinkan. Aku menungguinya hingga orangtuaku terbangun, yaitu ketika fajar Subuh tiba. Ya Allah, aku melakukan itu hanya karena semata ingin mentaati perintah-Mu untuk berbakti kepada Orangtua, ya Allah jika seberkas keihlasan dari apa yang pernah aku lakukan itu, mohon ya Allah keluarkan kami dari gua ini.”

Keajaiban kedua terjadi lagi. Batu besar kembali bergeser dan membuat lubang yang cukup lebar. Namun, ketiga pengembara itu masih belum bisa keluar dari dalam gua. “Sekarang, giliranmu kawan,” dua pengembara yang sudah berdoa sangat berharap kepada kawannya yang belum berdoa  “Ya Allah Yang Maha Tahu, aku sering menggoda dan merayu sepupuku yang cantik untuk berbuat dosa dan berzina denganya. Namun Ia selalu menolak. Suatu hari, ia datang untuk meminjam uang sebesar 100 dinar. Aku memberinya dengan syarat dia harus memberikan kehormatannya kepadaku. Diapun terpaksa mengabulkan keinginanku karena dia dalam situasi yang terdesak. Namun, pada saat aku hampir melakukan niatku, ia mengingatkanku untuk selalu takut kepada-Mu. Aku tersadar dan segera membatalkan niatku. Ya Allah, jika apa aku yang kulakukan itu ada sedikit akan ketakutanku kepada-Mu, aku mohon ya Allah, keluarkan kami dari gua ini,” doa pengembara terakhir sambil berderai air mata.

Batu besar bergeser untuk ketiga kalinya. Kali ini, celahnya sudah cukup untuk dijadikan jalan keluar bagi tiga pengembara tersebut.

Sahabat, sesulit apapun hidup ini, jika kita selalu melibatkan Tangan Allah SWT, maka tak ada yang mustahil  bagi kita untuk menggapai sesuatu yang kita dambakan, asal selalu ada cadangan Amal Sholeh yang kita terus kita investasikan supaya tangan Allah SWT tidak berhenti terlibat dalam setiap aktivitas kita.

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan". (QS. Al-Hajj: 40-41), ternyata untuk menolong Agama Allah itu tidak sulit cukup dengan melaksanakan Sholat, Zakat/Sedekah, berbuat kebajikan kepada sesama, dan meninggalkan segala hal yang dilarang Allah SWT, itulah JAMINAN Kepastian datangnya Pertolongan Allah.

“Dan orang yang disempitkan rizkinya, hendaklah ia memberi nafkah (sedekah) dari harta yang diberikan Allah kepadanya“ (Surah At Talaq: 7), ternyata orang yang sedang disempitkan rizkinya saja itu masih disuruh bersedekah.

mari kita bersegera memperbanyak Amal Shaleh...